Rasanya pernah kudengar sebuah sajak tentang seorang ibu gajah yang berjalan sepanjang Tanganyika untuk menziarahi belulang kedua anaknya yang mati.
Pernahkah membayangkan cinta sebesar apa yang ia miliki?

Samar-samar kuingat adegan dalam sebuah film,dimana kau dan aku di atap sebuah gedung.
Menghitung satu demi satu lampu jalan dimatikan di fajar yang murung

…..
Satu demi satu
…..

Hingga lampu ke dua puluh, lampu terakhir yang masih bisa terlihat dari bangku tempat kau menyandarkan kepala ke bahuku.
Dan aku hampir tertidur dibuai harum rambutmu yang ditutupi selendang hitam oranye hingga kau berbisik, ..fajar hampir usai..

Begitulah cerita yang akan kita wariskan pada anak-anakmu, pada anak-anakku.

Dan di suatu senja yang berwarna ungu di ujung landasan pacu,  kulepas kau terbang ke Machu Pichu sebuah negeri surga yang kau bilang selalu berkabut, berembun di dalam pikiranmu.

Ujung film menjelang sampai kutukan mantera sihir, guratan guratan luka yang nyaris kita yakini sebagai takdir kini berakhir diujung catatan kaki penulis naskah.  Hal remeh yang ternyata terasa penting seperti layaknya kata pengantar setelah judul yang memuat siapa bertindak sebagai apa, yang tak sempat aku,kamu,kita bahkan kalian nikmati..