Kau biarkan malaikat-malaikat itu pulang, membelakangi, menjauh dari ranjangmu. Setelah semalaman penuh terjaga. Menjagamu. Sementara malam mulai rapuh. Kumpulan kabut tanggal dari sepi yang kokoh. Sebagian lagi memuai seperti jiwa-jiwa terlepas dari raganya. Sebuah embun yang kita namai puisi itu mungkin memang benar-benar jatuh.

Di atas pucuk daun mangga belakang rumah, embun itu merebahkan tubuhnya, hingga  akhirnya muncrat, menyebar ke ranting-ranting pohon lain, dahan daun singkong, atap kandang yang bocor, rumput pinggir jalan dan tanah hitam yang harum selepas terbuai embun.

Ketika segala yang bernama hitam telah dihirup subuh, bunyi-bunyi saling mentasbihkan diriNya sebagai yang pertama, kau membuka mata.

Memasuki sebuah ruang yang hanya ada seorang anak kecil dan dirimu di dalamya. Anak itu mengajakmu berlari-lari kecil. Kau menyetujuinya. Napasmu saling bersahutan. Anak itu kemudian berkata; “Kau kelihatan lelah sekali, aku akan ambilkan kau minum.” Kau sendiri heran, mengapa anak sekecil itu bisa berpikir seperti itu. “Baiklah” Katamu sambil tersenyum. Anak itu pergi.

Setengah jam, satu jam, dua jam, anak itu tak kembali. Satu hari, satu minggu, satu tahun, anak itu tetap tak membawa ai untukmu. Kau memejamkan matamu. Ana yang baru kau kenal itu sudah terasa seperti nyala bagi apimu yang redup. Namun kemudian kau kehilangan hangatnya. Luka yang tak pernah punya definisi.

**

Rindu siapa yang mengigilkan hewan ternak, batu-batu lumut dan langit bulan April? Tuhanpun ta hendak memberi jawaban. Serangga-serangga, dan ular segera masuk ke liang-liang batu. Digantikan burung kutilang dan kupu-kupu daun Johar. Sebentar lagi langit akan dibuka, awan putih berbaris turun, dan cahaya akan mengalir seperti air mancur pada ember yang bocor. Ke bukit-bukit hijau di perbatasan kampung, ke sawah-sawah mili petani miskin, ke kali-kali kecil, hingga kali besar di kampung seberang.

Dan sebelum semua itu, sebelum segala sesuatu menjadi yang bernama pagi, kau akan membuka mata untuk  kesekian kalinya, melihat bayang samar, lebih nampak gumpalan awan, setelah akhirnya mendekat, membentuk bayangan sebentuk manusia. Manusia dengan tubuh kecil yang kau kenali sebagai anak kecil yang akan mengambilkan air untukmu saat kau berlari-lari kecil tapi tak pernah kembali, anak kecil yang lebih kukenal sebagai aku. Anak kecil yang terbata-bata hendak mengajari berucap;

“Selamat pagi, Ayah.”

Iklan