…Perempuanku

Adalah yang lebih rela kehilangan dirinya daripada kehilanganku dan berkah Tuhannya…

Lalu bagaimana aku membalasnya.Bila bukan dengan cinta tak berbatas.

Hatinya mungkin pernah teriris, sampai lepas dari kendali kasih lemah lembut.

Namun seseorang tidak dinilai dari semata geram yang ia perbuat.

Tapi dari bagaimana kebaikan kembali ia ijinkan menguasai jiwa.

Tuhan tidak berhenti menilai sampai akhir sebuah babak jatuh bangun…

Siapalah aku yang tak mau teladani itu?…dan pantaskah bila berani menyia-nyiakan jiwa tulusnya?

Aku tampil seraya utuh namun tak begitu sempurna di hadapannya. Bahagiakan dan kecewakan dia dalam perulangan yang serupa banyaknya.

Lalu Tuhan tetap ijinkan kami bersama…

Terpujilah Dia! Dia! Dia! …dan perempuan tulus di sisiku yang diberkahiNya.