Kau, perempuan yang seringkali menginginkan hujan turun di kotamu. Hujan yang sangat lebat jika kamu merasa rindu terlalu erat memeluk dadamu. Lalu, kau akan berubah menjadi bocah riang yang ingin menghambur ke rintik-rintik air jatuh itu. membiarkan ujung-ujung runcingnya membasuh kepalamu; menginginkan segala pemberat di kepala ikut hanyut bersama alirnya.

Tak jarang mendung terlalu gelap bergelantungan di kotamu, namun hujan tak hendak juga turun di situ. Mungkin juga hujan turun, namun kau tidak suka dengan petir yang menyambar-nyambar yang membuatmu terpaksa hanya bisa memandangi hujan dari kamarmu.

Kau begitu menikmati, hujan yang
selalu kau kira mampu menghapus segala penat di kepala, hujan yang kau anggap sebagai sarana untuk menumbuh kembangkan lagi asa.

Namun, kau telah melupakan suatu hal jika ada sesuatu yang bisa kamu temukan setelah hujan turun. Sebuah lengkung busur pelangi. Kau sudah terlalu berkubang dalam mendung dan hujan yang terbawa serta, hingga kau tidak sadar ada pelangi yang telah mengajakmu bermain di ujung sana.