Saat hujan tak mampu lagi mengeja melodinya menjadi sosok rindu yang dirindukan, maka disitulah aku mulai bosan mendengar melodi yang hujan dentumkan.

Aku hanyalah sosok yang tak lebih berharga dari bulir debu yang berterbangan di angkasa. Dari isyarat debu yang tak sempat angin dengar, dari isyarat angin yang tak mampu awan eja, dari isyarat awan yang tak mampu hujan raba.

Aku masih dapat berisyarat, dengan nafas yang aku hembuskan, dengan kaki yang aku langkahkan, dengan tangan yang aku ayunkan, dan dengan doa yang aku panjatkan.

Siapa yang perduli pada bulir hujan yang mencari pertolongan pada sehelai daun yang selalu diterpa angin dan terombang-ambing? Hanya ranting yang akan membuatnya kokoh. Jika tidak, daun itu akan terhempas bersama bulir hujan yang lebur bersama tanah.

Sesederhana itu bulir hujan rapuh, lebur, bercampur dengan tanah. Layaknya batang pohon yang tak mampu lagi mempertahankan dahan dan ranting yang kian melemah hingga akhirnya terhempas. Layaknya pun aku yang akan mudah rapuh jika tiang yang aku jadikan kekuatan tak mampu lagi menyanggaku.

Aku bukan egois karna selalu meminta untuk kau menjadi sosok yang kuat sementara aku tetap lemah. Karna jika suatu saat nanti aku seperti ranting pohon yang kering dan tak berdaya, kau masih kokoh sehingga mampu menghasilkan ranting yang baru dan kuat.

Rapuhku sederhana. Pun dengan aku mencintaimu dengan sederhana. Hanya mempertahankanmu yang lebih dari segala yang lebih. Coba sesekali mampirlah kau ke dadaku. Siapa tahu dia berhenti berdenyut, hanya karna malu takut kamu tahu, bahwa disetiap detaknya, ia meng-asma namamu.

Tanda titik adalah tanda yang mengakhiri sesuatu. Dan aku, tak akan menggunakan tanda titik dalam mencintaimu. Aku akan menggunakan tanda titik jika Tuhan mengakhiri tanda tanyaku.