Aku sedang berada dalam diam.
Aku hanya ingin sesekali bertindak sebagai murid terbaik.

Untuk dapat mempelajarimu, aku harus diam demi bisa memperhatikan.
Namun terkadang, kau menghakimiku dengan menyebutku menghilang.

Bukankah kau suka sekali didengarkan? Maka untuk bisa mendengarkanmu, aku harus menciptakan keheningan.

Aku menghitung jumlah bicara agar jangan sampai aku kehilangan fokus, sebab mengecewakanmu adalah pantangan.
Namun terkadang, kau menyebutnya dengan aku enggan memperdulikanmu.

Peluhmu ada untuk kuusap.
Letihmu serupa tenaga untukku semakin kuat menopang.

Dengan kilometer jarak berada di antara, kau tak perlu susah payah memaklumiku.

Rasakan saja aku.
Dengan begitu, kau akan tersenyum mendapatiku yang tidak pernah benar-benar diam.