Degup jantung, dengung lalat juga gumam lirih selokan keruh
Menelan timbunan sampah, tanpa sanggup mengeluh
Langit yang sepi, menyembunyikan matahari
Di kepala kita, mendung menggayuti cemas mimpi-mimpi
Menatap putaran jarum detik arloji
Merenungi kesia-siaan hari
Memeluk gelisah, berkelahi dengan amarah
Hidup, ternyata harus pandai memilah janji
Hidup, hanya untuk mereka yang sudah khatam menjilat ludah sendiri
Ah, ternyata -mungkin- ada yang luput dahulu kita pelajari

Terpejam membayangkan kerlip kunang-kunang
Mengenang laron semalam yang selalu kembali ke pijar api, menjemput mati
Menatap sisa purnama yang mengigil tanpa teman
Memaki matahari yang terlalu cepat datang
Seruput kopi yang terasa getir
Dan sepi, perlahan merobek-robek akal pikir

Pagi yang sunyi di hari yang sepi
tanpa sadar, aku menggumamkan sajak-sajak cinta
Pagi yang sunyi di hari yang sepi
tanpa suara, aku meneriakkan Indonesia Raya…