kuingatkan kau di bait pertama:
aku tak bisa membuat sajak cinta
mungkin akan ada yang terkulum
ah, biar kuartikan saja itu sebuah senyum

.

mari kita masuki bait kedua
aku akan mulai bercerita
tentang perjumpaan pertama kita
-dan kali selanjutnya
di hari-hari yang telah kulupa namanya
apakah itu senin atau selasa
bisa jadi juga sabtu, malam minggu

tapi masihkah penting nama hari bagimu,
-sedang bagiku, aku telah lupa waktu
sejak menatap matamu

.

telah kutuliskan bait satu dan dua
kau akan segera membaca bait ke tiga
dan jariku mulai gemetar
dadaku makin berdebar-debar
aku mencoba berpikir ulang
perlukah perasaan ini kutuang
mestinya tak usah kutuliskan puisi
baiknya kurobek dan kubiarkan kata-kata mati
tapi ini bukan kertas dan tekadku sudah mengeras
ada yang harus tersampaikan, sebelum senja ini mengentas
dan segala mimpi lekas terlepas

.

 

duh,
aku lupa ini bait keberapa
bisakah mari kita abaikan tentang baris dan rima
sebut saja ini bukan puisi
aku hanya mampu menuliskan isi hati dari sini
untuk mengucap kata yang tak mampu bersuara
setiap kali kita bertatap mata

.

ada getar di setiap kali kita tak berjarak
ada geliat di dasar hati ketika kita bersama
ada yang bernyanyi saat kita punya janji jumpa
ada sepi setiap kau tiada
ada namamu di jeda sajakku
ada denyutmu di nadiku;

kau di jantungku
–entah sejak kapan

.

maka biar kukatakan padamu, kini
meski kita belum sepakat menyebutnya apa
pun diriku tak ingin tergesa menamainya cinta
– untuk ia yang telah berdiam di hati

atau mungkin,
kau bersedia memberinya nama?