Ingatanku berkeliaran di hutan waktu, semoga tidak tersesat ke sungai air mata. Ada yang tergenang di wajahku, ada yang terngiang di telingaku. Entah apa, entah bagaimana. Mungkin ini namanya mati rasa. Kita tidak lagi berdansa. Di bawah matahari, hujan, atau senja. Kumatikan sejenak melodi, biar hening menghinggapi. Bahagia itu kamu. Ikut berbahagia itu aku. Jelaga tawa terkumpul di mata. Keduanya tumpah melebur satu. (di)selamat(kan) malam. Semoga mentari mengajakku kembali menari. Malam sebentar lagi habis. Mimpi belum juga datang.

 

 

Kadang, disaat seperti ini aku ingin berjarak hanya sehasta darimu. demikian ingin aku menjagamu dari air mata. aku hanya mengenalmu melalui lini masa. katakan aku terlalu mudah jatuh cinta. entah, sakitmu aku juga merasa. Seperti apapun, mereka melihat yang tampak. tiada menyingkap apa yang bersembunyi. Kau, adalah wanita yang setia menanti. Dia yang tak kau sebut namanya, harusnya lebih peka merasa.

 

 

Semenjak aku mengenalmu melalui kata. Biarlah aku tenggelam dalam kata-katamu. akan jauh lebih baik dibanding larut dalam kesedihanmu. Sekeras apa aku mencoba, aku tidak akan menjadi dia. Sekeras apa aku, ingin kucoba, untuk tetap selalu ada. Lini masa ini mulai berjalan lambat, degup jantungku berderap cepat.  Pada setiap kicau melintas, kuharap airmatamu tak terlepas setinggi gunung hambatan, selebat hutan rintangan. Memulihkan hatimu, seperti pekerjaan yang takkan lekang oleh waktu. Kau miliki banyak teman. Kau mengenal banyak kawan. Kau miliki satu hati. Tolong, jangan biarkan ia retak kembali. Sejenak aku ingin melipat waktu. Mengenalmu, lantas sembunyikan detik agar tak berdetak.