baru saja,
di simpang jalan aku bertemu Tuhan
berbincang sebentar, sekedar bertukar sapa,
sebelum melangkah pulang

kami berkelakar
tentang hidup yang kelewat sukar
tentang tepi langit yang mulai pudar
tentang keimananku padaNya yang telah mengakar

damai, menyusup tulang sumsum
sampai sebuah sabda meletar telinga

masa, kataNya
;Tuhan tidak mengenal Tuhan

aku terbahak, tawa menggelegar
hingga nafasku tersengal. kupikir lagi-lagi Ia bercanda seperti biasa

namun Tuhan terdiam
-seperti biasanya bisu, setiap kali kita bertanya

lalu, sebuah kesadaran menamparku hingga terkapar

Tuhan memang jenaka, tapi Ia tak pernah bercanda

seolah gelap, menyekap
langit menantangku menjawab kebisuanNya.

Tuhan adalah Tuhan, bukan?
lantas mengapa Ia berkata, Ia bahkan tak mengenal Tuhan
lalu untuk apa aku pulang, tempat apa yang kutuju di ujung jalan
;rumah dengan kehangatan, ceruk tubuh menyimpan pengharapan.

bukankah telah kukenal dengan baik
arah rumah yang kutuju
di ujung jalan itu
bukankah telah kuhapal benar
segala kalam penunjuk jalan
ke rumah tujuanku
ataukah aku tak pernah benar-benar tau
mungkinkah pijar cahaya telah mengekalkanku dalam kebutaan
benarkah segala hal yang selama ini kuanggap sahih

namun Tuhan hanya diam,
-seperti biasanya bisu, setiap kali berjuta pertanyaan mengamuk dalam kepala
sekejap menghilang, Ia meninggalkanku sendiri
berayun-ayun memeluk kedua kaki.

langit masih gelap,
hitam. menantangku menjawab kesombongan
seakan menggeram
“bukankah kau tau segala yang kau pikir tau.”

kepalaku tercekat
di tanah ada jejak tanda Tanya yang mendekat
mengusikku yang tak mampu menjawab kesombonganku

sendirian
ditelanjangi rintik hujan, aku berayun

“lalu kemana aku harus pulang, Tuhan, aku hanya ingin pulang”

hujan menitik dari langit hitam
menangisiku yang merintih pilu
meraung lirih
hilang.