Duhai Bandwidth, maaf sebelumnya merepotkanmu. Tadinya aku ingin menyampaikan surat ini langsung kepada seseorang disana, tapi aku tahu ia lebih sering tidak ada di ‘rumah mayanya’. Mungkin ia sibuk mencari oleh – oleh yang akan dihadiahkan untuk dirinya sendiri.

Duhai Bandwidth, beritahukan kepadanya bahwa ada seorang perempuan yang memberitahu aku bahwa hujan tidak jatuh, tapi terbang dari langit.

Suatu hari, perempuan itu dan aku jalan – jalan ke sawah. Saat itu musim panen, sawah berwarna kuning keemasan, Bapak – bapak petani memanen beras di sawah, Istri – istrinya memanen senyum di pinggir sawah, aku dan dia menatapnya sambil saling melingkarkan lengan di pinggang. Kemudian, dia mengajakku berbaring di sebuah gubuk di tengah sawah. Kata dia, aku dan dia sekarang sedang berbaring di langit senja. Dia mengatakan padaku bahwa aku laki – laki paling jelek yang pernah dia temui.

Duhai Bandwidth, beritahukan kepadanya bahwa aku bahagia bersamanya, aku begitu percaya bahwa aku telah jatuh cinta.

Pernah suatu hari, perempuan itu mengajakku ke atap gedung angan. Di sana, dia mengajakku membayangkan hal – hal sedih agar bisa menangis. Aku disuruh berjanji untuk tidak memberitahukan dia apa yang kubayangkan, begitupun dia sebaliknya. Diam – diam, aku membayangkan bagaimana jika aku kehilangan dia. Aku berhasil menangis, tapi dia tidak. Dia bertanya tentang apa yang aku bayangkan. Aku menolak, tapi dia terus memaksaku. Akhirnya, aku memberitahukan dia bahwa aku membayangkan bagaimana jika aku kehilangan dia. Dia menangis. Kata dia, aku tega sekali memikirkan hal yang bahkan tak pernah sanggup dia bayangkan. Hampir satu jam, baru akhirnya dia berhenti menangis. Kata dia, airmata yang keluar akan jadi kunang – kunang. Jika aku menyakiti dia, maka kunang – kunang itu akan marah dan menyerbu ke mataku.  Dan aku percaya itu.