Kalo boleh aku nebak ketika anda masih SD, SMP ketika ada kenaikan kelas dan terjadi pengacakan terhadap siswa, anda secara refleks mencari teman bangku yang telah mengenal anda, seperti mantan teman sekelas di tingkat sebelumnya, atau bisa juga yang anda kenal di kantin, atau bisa juga yang lain, tapi menjurus arahnya ke sana. sangat canggung bila anda duduk dengan teman baru yang sama sekali belum anda kenal, meskipun kenyataannya rasa canggung ini paling cuma sehari, atau justru semenit.

Ketika mulai ke Jakarta. aku memang merasakan canggung yang luar biasa, karena aku datang sendiri dan hanya mengenal beberapa teman yang tentunya eks temanku jauh di aktivitasku sebelumnya, teman kuliah. Tidak satu ada kenalan sekerjaan. jadi bahan tertawaan karena logatku yang medhok tur mbededeg, memang canggung berbicara sehari hari dengan bahasa Endonesah meskipun ini bahasa nasional sekalipun.

Takku pungkiri meskipun dulu mengadu nasib di kota besar tapi toh masih juga tidak hilang kendesoanku, yang mengenal aku tentunya mengerti benar.

Berbicara hal yang lain sepeda kumbang alias pit unto (dames/cewek) atau pit kebo (heeren/cowok) bisa dikatakan menjadi ikon di beberapa kota yang rodo ndesit, disini yang aku maksud adalah yang benar-benar digunakan mayoritas penduduk sehari-hari. Aku tak perlu mencontohkan daerah mana, yang jelas anda pasti mengerti benar apa yang aku maksud.

Begitu pula terjadi pada diriku, ketika teman mengimpor motor kesayangan mereka, atau komputer mereka dari kampung halaman. aku tidak, aku malah mengimpor sepeda kumbang milik kakek. untuk apa? enggak tau. tapi ya aku kenyataannya datang dan tujuan utamanya tidak pernah terpikirkan sampai sekarang. lepas dari niatan bike to work, tentunya sepeda itu aku pakai kerja, ke warung, dolan ke tempat teman dsb.

Di tempat kerja dahulu, aku mendapat jatah kompie yang online 24 jam. ketika iseng merdukun di lapaknya mbah gugel, aku bersua secara maya dengan lapak teman lama. dari sini interaksi dengan beliau berjalan dan berkembang ke tongkrongan yang tentunya nyaman karena yang aku ceritakan di paragrap awal tadi. kendesoan, guyub dan sebagainya benar aku rasakan. bak bercengkerama dengan teman teman kecil yang tidak pernah ketemu sama sekali.

Penggalan-penggalan cerita tentang hal-hal yang nggilani, lucu-lucu, umuk kata orang yogjo atau unthuk kata orang solo benar-benar nyaman adanya, awalnya dari kehidupan sehari-hari, nostalgia sepeda tua, consinyur koffee dan tabak sampai ruang toleransi untuk diriku secara pribadi menjadi konsinyur desain grafis meski aku masih kalah jauh bila dibandingkan dengan beliaunya.

terlepas dari semua itu, aku punya alasan bahwa aku menikmatinya. having good times. aku benar-benar merindukan saat-saat itu.