Dia, yang tak kenal baik dengan pelangi, yang terlahir buta akan warna warni, meringkuk di atas sehelai takdir seraya menyenandung melodi karya lenguh nafasnya sendiri..

Dia, yang kerap berbincang dengan Tuhan tanpa suara, lewat sandi sandi rahasia yang hanya dimengerti oleh kelopak kelopak mendung milik wajah wajah murung..

Dia, yang berkarib dengan letih dan sedih, para belahan jiwanya yang purba, bahkan sebelum masa dikala dunia dulu khilaf dan merestuinya lahir..

Dia, yang hanya mengerti pelangi sebagai lengkung hitam putih sederhana, untaian murung bibir Tuhan selepas gerimis, air mata-Nya..

Dia, yang selalu rindu rumah selayak rahim sang bunda, dimana ia nyaman menyimak detak jantung yang mendongeng serta resah hati yang tak henti bertutur, tentang kejamnya ia diluar sana, yang bernama dunia..

Dia, pemilik lutut berdebu yang terus mencoba menunggang harap, setelah jatuh nan tak terhingga dan untuk jatuh yang ‘kan dijelang..

(untuk boy kecil yang ada “diperempatan terminal induk sore ini”)