Langit siang itu gelap, seperti biasanya aku melepaskan pakaianku dan berlari keluar rumah nenek dengan begitu riang, apalagi hari itu adalah tanggal 12 Januari, hari ulang tahun nenekku. Aku berlari dengan cepat seolah tak ingin melewatkan tetes pertama hujan yang jatuh dari langit. Ayahku seperti biasa, hanya mampu melihat aku bermain hujan lewat jendela rumah tanpa banyak melarang, hanya berkata padaku untuk jangan terlalu lama bermain hujan. Ayah dan orang-orang di sekitar rumah nenek sudah hapal tentang kebiasaanku yang suka bermain hujan. Oleh sebab itu banyak yang menyebutku sebagai Bocah Hujan, julukan yang sudah di alamatkan kepadaku sejak usiaku 5 tahun, saat usiaku 12 tahun yang seharusnya tak dimaklumi lagi untuk bermain hujan, kecuali oleh orang-orang yang sudah tahu alasan aku begitu mencintai hujan.

Hari iitu ulang tahun nenek, maka aku sudah mempersiapkan kado untuknya. Sudah sebulan aku mempersiapkan kado untuknya dengan bantuan Mbak Shinta tetanggaku. Mbak Shinta sangat pintar menggambar dan pelajaran matematika, maka saat itu sudah hampir sebulan aku belajar dengannya. Aku bilang pada Mbak Shinta bahwa aku ingin belajar menggambar dan ingin menggambar nenek dan aku sedang berpegangan tangan di depan sebuah istana yang bagus sekali, di langitnya akan ada hujan dan pelangi yang warnanya merah, kuning, dan ungu. Sebab, nenek tak suka warna hijau yang mirip warna katak. Nenekku sangat takut katak, maka ia tak suka warna hijau, apalagi warna hijau muda. Aku ingin belajar matematika dengan Mbak Shinta karena ingin mendapatkan nilai bagus untuk ulangan matematikaku. Aku ingin membuktikan pada nenek bahwa cucunya suatu saat bisa jadi Presiden, sebab kata nenek, Presiden itu harus pintar pelajaran matematika.

***

Aku sedang bermain mobil-mobilan, sampai akhirnya aku dengar suara mobil angkot datang. Seketika aku berlari menghampirinya. Kulihat Ayah dengan senyum menggendong nenek dan mendudukkannya di atas kursi rodanya. Kemudian Ayah masuk ke dalam rumah untuk membereskan kamar sebelum nenek masuk dan istirahat. Sudah cukup lama nenek duduk di atas kursi rodanya, maka saat itu aku memberanikan diri bertanya.
“Nenek lagi sakit?”
“Enggak, Sayang. Kenapa kamu tanya seperti itu?”
“Kata Pak Guru orang yang duduk di kursi roda itu berarti sedang sakit.”
“Sssttt, nenek Cuma ingin agar dimanjakan oleh Ayahmu. Lihat sekarang , Ayahmu jadi rajin menggendong dan menemani nenek kemanapun bukan?”
“iiiihhh, nenek curang. Kalau begitu aku juga ingin berpura-pura seperti nenek.”
“Kamu ga perlu pura-pura sayang, Nanti nenek yang gendong kamu deh, tapi kamu harus janji jangan kasih tahu Ayahmu rahasia kita ini.”
“Iya, aku janji.”
Nenek  menyuruhku duduk di pangkuannya, kemudian Ayah keluar dari dalam rumah dan tersenyum kepada kami berdua, tapi entah kenapa kulihat matanya sedikit basah dan aku tak tahu kenapa bisa seperti itu.

HARI ini tanggal 12 Januari, dan kata Ayah adalah hari adalah ulang tahun nenek. Ayah bilang padaku kalau nanti kita akan memberikan kejutan pada nenek. Aku tak tahu kenapa sudah seminggu lebih nenek tak pulang kerumah, bahkan 3 hari terakhir beliau hanya mendengar kabar nenek lewat pesan yang dititipkan kepada ayah, katanya ia sedang di rumah sakit. Aku tersenyum, pasti nenek sedang pura-pura lagi supaya semakin dimanjakan oleh Ayah. Kudengar suara motor Ayah datang, aku sudah siap bertemu nenek dengan baju bergambar Batman yang dibelikan nenek dulu. Katanya ,aku mirip seperti Batman yang lincah dan tidak cengeng. Kemudian Ayah datang menghampiriku, membungkuk dan memberikan sebuah kotak hadiah kepadaku.
“Apa ini? Untukku?”
“Bukan, Sayang. Hadiah ini untuk nenekmu, nanti kamu yang harus memberikannya.”
“Kenapa aku, Yah?”
“Sebab nanti nenekmu pasti lebih senang jika menerimanya darimu.”
“Boleh tahu isinya?” Ayah menggeleng, kemudian memelukku sejenak.
Akhirnya aku dan Ayah tiba di rumah sakit, di sana aku melihat banyak sekali orang yang tak kukenal. Tapi kenapa wajahnya murung? Pasti karena rencana pura-puranya gagal, tak seperti nenek yang berhasil dimanjakan oleh Ayah. Setelah melewati banyak wajah yang murung itu, akhirnya aku sampai ke kamar tempat nenek menginap. Kulihat nenek tersenyum, meski wajahnya tampak terlalu putih saat itu dan aku tak suka melihat wajah nenek yang memakai bedak ketebalan.
“Hai, Batman. Bawa hadiah untuk nenek?”
“ Bawa dong, tapi yang membeli Ayah. Aku gagal mengumpulkan uang jajanku, soalnya sudah seminggu aku selalu ingin jajan terus nek.”
Kemudian nenek menyuruhku untuk memeluknya, dan tiba-tiba aku sempat melihat matanya basah, sama seperti yang sering kulihat di mata Ayah seminggu ini.
“Kenapa mata nenek basah? Menangis?”
“tidak, Sayang. Ini namanya hujan kecil, hujan yang turun karena nenek sayang padamu, dan hujan kecil ini bisa turun saat nenek kangen padamu.”
“horeee, berarti nenek sayang sekali padaku. Tapi, kenapa wajah nenek putih sekali hari ini?”
“nenek mau pergi sayang, makanya nenek memakai bedak yang tebal supaya kelihatan putih dan cantik.”
“mau kemana? Aku ikut ya nek…”
“nenek mau pergi jauh ke Negeri hujan, kamu ga boleh ikut sayang.”
“Negeri hujan? Di mana? Lebih jauh dari rumah Nenek?”
“Lebih jauh, Negeri hujan ada di langit. Di sana nenek akan tinggal di sebuah istana yang bagus sekali, nanti akan ada pelangi di depan istana, dan nenek akan sering melihatmu dari sana. Makanya kamu ga boleh nakal, dan harus pintar di sekolah.”
“Berapa lama nenek di sana?”
“Sampai kau nanti jadi Presiden sayang.”
“ Bagaimana caranya supaya jadi Presiden, nek?”
“ Kamu harus pintar pelajaran matematika dan harus tetap nurut dengan Ayah dan ibumu.”
“oke, aku janji. Tapi bagaimana kalau aku lagi kangen nenek?
“Heemmm, nenek akan menurunkan hujan dari istana hujan, dan kamu bisa tahu kalau nenek sedang memperhatikan dan kangen kamu.”
“Ok, tapi nenek harus janji untuk sering turunin hujan dari istana hujan ya.”
Kemudian aku dan nenek berpelukan bergitu lama, sampai akhirnya paman menjemputku dan membawaku pulang ke rumah. Aku tak tahu untuk apa aku diajak pulang ke rumah, katanya ibu kangen aku, tapi entah kenapa wajah ibu selalu murung setiap melihat wajahku.

Setelah seminggu di rumah, aku dijemput Ayah untuk pergi ke rumah nenek. sejak di rumah sakit itu aku tak pernah lagi menemukan nenek dan sering mendapati Ayah tampak murung sendirian untuk kemudian memelukku.

***
Aku belum terlambat, sehingga masih bisa merasakan tetes hujan pertama sambil menggenggam kertas yang sudah kugambar dan kertas ulangan matematikaku yang mendapat nilai 90. Hari itu aku ingin memberitahu kepada nenek bahwa aku sudah pandai menggambar dan nanti dengan nilai matematika yang bagus aku akan bisa jadi Presiden. Sebenarnya aku tak suka jadi Presiden, dan lebih suka jadi arsitek, aku hanya ingin jadi presiden supaya bisa bertemu nenek.
“Nek, selamat ulang tahun. Hari ini aku memberikanmu hadiah. Aku menggambar nenek dan aku sedang bergenggaman tangan di depan Istana hujan. Di depan istana kugambar pelangi, warnanya merah, kuning, dan ungu. Nek, lihat deh, aku dapat nilai ujian matematika 90, berarti aku nanti akan jadi Presiden dan segera menemui nek. Nek, aku kangen nenek…”

Lalu seperti biasa, Ayah akan menjemputku dengan payung sebelum aku puas mengobrol dengan nenek, dan sekali lagi aku harus menurut kepada Ayah. Karena Cuma dengan menurut pada Ayah aku bisa segera menjadi Presiden, dan menemui nenek.