Dia mengambil sehelai kertas. Dilipatnya kertas itu menjadi sebuah pesawat. Dibacakannya sebuah puisi (orang-orang menyebutnya mantra). Pesawat kertas itu perlahan-lahan melayang. Berputar-putar di udara. Terbang. Diapun terbang.

Dia tak pernah bercita-cita menjadi penerbang. Dia juga tak pernah tahu bagaimana dia bisa terbang. Yang dia tahu, dia seorang pemalu yang lebih suka mencatat keberaniannya dalam buku. Yang mencatat lukanya dalam buku. Yang menciptakan dunia sepinya dalam sebuah buku.

Pesawat kertas itu terus terbang. Tinggi. Makin meninggi. Jauh. Makin menjauh. Melampaui imajinasi yang paling tinggi. Melintasi desa-desa tempat kelahiran moyangnya. Sawah-sawah sehijau kedamaian. Bukit-bukit tempat bersemayam roh. Sungai-sungai deras yang kokoh. Pantai-pantai tempat bertemunya laut. Jalan-jalan panjang, hingga kota-kota tempat segala sesuatu dihidup dan dimatikan.

Di atas pesawat kertas itu dibacanya puisi. Kepada angin yang tenang, kepada seratus musim hujan yang arif, kepada jajaran pohon mahoni. Juga kepada ribuan lampu kota yang berkedap-kedip. Tentang seorang perempuan penjual tomat sekaligus perajin setia yang ditinggal pergi suaminya, yang melahirkan seorang anak lelaki. Lelaki yang merasa lebih wanita daripada wanita itu sendiri. Lelaki yang mengubah patah hatinya menjadi seribu kupu-kupu cahaya. Berpendar tanpa henti. Tentang segala sesuatu yang akan dan telah usai menjadi cinta. Tentang segala sesuatu yang hidup dan mati karena puisi.

Dia dan pesawat kertas itu masih terbang. Terus terbang. Mengabarkan puisi kepada waktu-waktu yang belum pernah disinggahi.

(orang-orang mencatatnya sebagai mantra, rumput-rumput mengabadikannya sebagai sabda)