setiap orang mempunyai caranya masing – masing untuk menyelesaikan sakit hatinya.

sebagian memilih untuk berlari, menyingkir dari hal yang telah menyakitinya. entah oleh sebuah perjalanan, atau bahkan berpindah ke kota lainnya, atau apapaun yang bisa membuatnya menjauh. termasuk dengan melarika perasaan ke seseorang / sesuatu yang baru. mereka meyakini, semakin jauh dari masalah, semakin cepat sakit hati selesai. entah benar – benar selesai, atau membiarkan begitu saja lalu melupa. dan mereka akan terus menjauh, menjauh dan menjauh. suatu waktu, kembali ke masa lalu seperti sebuah mimpi buruk.

beberapa lainnya berpura – pura untuk tidak sakit hati. mereka tetap berada disitu, menjalankan kehidupan seperti sebelumnya, tersenyum seperti sediakala. bahkan diantaranya tersenyum dengan berlebihan sambil mengatakan bahwa dia baik – baik saja. terus saja mengucapkan mantra yang sama, berharap sakit selesai dengan cara mengabaikannya. hingga pada suatu waktu, mereka akan kelelahan. pada sakit hati yang ternyata belum usai, dan pada kepura-puraan akan sakit yang disangkal tapi selalu ada.

dan sebagian, memilih untuk menghadapinya. jujur mengakui bahwa sakit itu disana, menggerogoti setiap pikirannya dan membuat rapuh dirinya. dia biarkan dirinya tersungkur, terperosok pada titik yang paling. keyakinan bahwa hanya mati yang bisa membuatnya selesai, justru dijadikan daya untuk bertahan. sejauh mana kesakitan bisa membuatnya menjadi lebih buruk. sampai suatu saat, dia menemukan bahwa ternyata sakit telah usai, dikotakkan pada satu kotak bernama masa lalu. tidak dihindari, tak juga diabaikan. sehingga kesakitan bukan lagi momok dan mimpi buruk. melainkan sepenggal cerita, pada suatu masa yang entah pernah berada disana. menjadi sebuah cerita untuk dikisahkan. tentang sebuah kebangkitan.