Sejawat memaksaku menulis lagi. Menurutnya aku cocok jadi penulis. Padahal, sudah aku katakan kalau aku tidak bisa menulis. Bagaimana mungkin aku cocok jadi penulis?

Sedari awal, baiklah kukatakan saja dengan terus terang, aku memang tak mau dan juga punya banyak kendala dalam menulis. Tentu saja ini bukan kesimpulan asal-asalan dan gegabah. Aku bisa mengatakan itu justru karena aku pernah, bahkan sering, berkali-kali malahan, mencoba menulis, menjajal seberapa aku punya bakat dan kemampuan dalam tulis menulis.

Sebelum menulis, aku selalu merencanakan sebuah point of view yang dahsyat. Aku berusaha meng(g)ayakan pemikiran yang tak lazim. Harapanku, jika tulisan selesai dan ku-unggah di blogku, semua orang akan mengatakan bahwa tulisanku keren.

Aku selalu (mencoba) mengembangkan kerangka yang sistematis. Aku, sekali lagi, percaya betul kalau tulisan yang bagus adalah padu-padan yang runut antara ide-ide liar seorang penulis yang diimbuhi metafora-metafora yang dahsyat. Dan, satu lagi: Aku juga sering –dengan sadar dan sengaja– membebani (calon-) tulisanku dengan suatu pesan khusus; ya… pesan yang harus kusampaikan, jika perlu dan bisa malah sebentuk pesan yang bisa mencerahkan pembacaku.

Tentunya aku tidak akan puas hanya dengan angan-angan macam itu saja. Aku juga selalu membayangkan tulisanku nanti akan dikomentari sebanyak mungkin dan akhirnya akan memantik diskusi yang ramai dan panjang.

Singkatnya: aku adalah perencana tulisan yang bombastis. Jadi layaklah bila seorang kawan memberiku gelar: system oralisa expert.

Bayangkan saja, setidaknya aku butuh 2 sampai 3 jam untuk menyelesaikan satu tulisan. Aku menuliskan satu kalimat lalu dilanjutkan ke kalimat berikutnya, setelah itu aku berhenti, lalu aku baca kembali dan aku berhenti lagi, lalu aku baca lagi dan aku berhenti kembali. Sampai akhirnya aku rapikan ejaannya. Jika perlu, aku akan menyisipkan satu kata yang khusus, kata yang dahsyat, bombastis….

Namun, akhirnya, disela-sela merapikan ejaanku, aku pun berpikir ulang apakah tulisan ini benar-benar akan aku tulis atau kadang aku akan menilai ulang tulisanku tersebut apakah sudah cukup greng atau terlalu menye-menye bin ecek-ecek? Jika sudah sampai tahapan seperti itu, jelas aku akan selalu ingat doktrin ambisius yang selalu aku canangkan jauh-jauh waktu sebelumnya: lebih baik aku tidak menulis daripada hanya menulis sesuatu yang lecek nan ecek-ecek.

Kadang juga dalam suatu penulisan yang sebenarnya tidak panjang-panjang amat, aku terlalu banyak mencari inspirasi sebagai pendukung suasana menulis. Misalnya, memutar musik yang setema dengan tulisanku atau meminum kopi sembari merokok atawa menyiapkan mulut hanya untuk sekedar mlongo sebentar.

Ruwet, bukan? Mbulet, toh?

Sebenarnya, ya sebenarnya… aku punya pengalaman menulis yang bisa dibilang tidak ruwet dan sama sekali ndak mbulet. Aku ingat saat aku menulis draft ucapan terima kasih pada tugas akhirku saat SMA. Aku merasa puas menulisnya. Tak hanya itu, menurutku itulah tulisan paling jujur yang pernah aku bikin. Aku tidak terbebani apapun, aku hanya mengungkapkan rasa terima kasih. Tidak lebih, juga tidak kurang.

Beberapa bulan lalu, saat merapikan gudang, aku menemukan salinan fotokopi tugas akhir sekolahku itu. Betapa kagetnya, tapi betapa senangnya juga, aku bisa menemukan kembali tulisan bersejarah itu.

Lalu aku membaca kembali, aku perhatikan satu per satu kalimat per kalimat. Sepintas hanya kenangan, lalu aku membaca lagi untuk yang kedua kalinya. Aku tersenyum kecut. Aku baca sekali lagi, kali ini dengan lebih cermat, bukan lagi kalimat per kalimat, tapi bahkan kata per kata. Tiba-tiba aku sadar tulisanku itu sungguh memualkan, benar-benar memualkan. Dan aku malu.

Padahal itulah tulisan paling jujur yang pernah aku tulis. Padahal aku merasa puas saat menuliskannya. Kenapa akhirnya terasa memuakan, kenapa malah terasa memualkan?

Aku pun tiba pada satu kesimpulan yang mungkin tak pernah muncul di benak orang-orang yang pandai mengolah kata menjadi  deretan kalimat  “Akhirnya aku mengerti menjadi penulis adalah hal yang mustahil.”

Mungkin aku hanya perlu kembali mengingat dan bersetia dengan kredo lamaku: memaksakan apa yang tidak dapat aku lakukan adalah kekerasan terhadap diriku sendiri. Kekerasan kepada otakku, tanganku dan seluruh jiwa dan ruhku. Aku tidak akan melalukan hal yang tidak aku senangi dan dapat aku lakukan. Ujian hidupku terlalu berat jika aku menjadi penulis.