1).

Akulah asing paling sempurna. Datang dari negeri yang tak pernah ada dalam pikiranmu sebelumnya. Negeri dimana langit adalah telapak tangan tuhan yang memayungi bumi. Hujan, ialah jendela-jendela tempat mata menerobos dunia. Dan hutan layaknya sejuta taman bunga yang sempat tercecer dari ingatan Adam.

Dalam lingkaran asing, dimana kaki kecil bersiap untuk melompat. Aku, ibarat anak kecil yang tersesat dalam negeri dongeng. Tak bisa menentukan kaki mana yang harus dilangkahkan, atau arah mana yang jadi tujuan.

Tubuh seperti penjara rahasia bagi jiwa sendiri. Dinding-dinding menjelma bongkahan sunyi. Udara mengabut di antara gedung dan jalan-jalan.

2)

Kau seperti hujan cahaya di hutan purba. Menelusup kanopi. Menembus daun-daun lebat dan pohon oak yang tinggi. Ranting kokoh dan udara lembab. Bau daun kering diguyur hujan yang menumpuk di tanah. Membelah batang-batang sunyi. Tangan selembut mata pagi. Menyentuh gelap. Menyentuh jemariku.

Kau tak pernah ingin tahu, apa saja yang ada di belakang punggung waktu. Katamu : “kita melangkah di hari ini, bukan di masa lalu.”

Kau tak pernah  mau peduli darimana tubuh kotor ini bisa berada di depanmu. Katamu : “kita semua berasal dari tempat paling kotor, dan yang lebih aku tahu, saat ini kau berada disini bersamaku.”

3)

Tiba-tiba malam. Hidup seperti sekumpulan serangga, menuruni gedung- gedung. Menuju apa saja yang baru dinyalakan. Sementara hari menukar diri dengan lampu-lampu laser, kita saling ingin menjadi sesuatu (atau apa saja) yang bisa masuk ke dalam tubuh kita. Satu sama lain.
“Bagaimana kalau kita bicarakan hal-hal tak penting ini di tempat yang lebih menyenangkan?” katamu.

“Hal-hal tak penting? Maksudmu surga? neraka? Asal mula adanya kita? Pemerintahan yang korup? Roman picisan? Atau kenangan-kenangan yang belum sempat kita lalui?”

“Hahaha.. Dasar penyair bodoh. Terserah kamu.”

“Baiklah. Mari kita menuju taman Eden, atau taman Babylonia, atau Negeri Putri Salju, tapi sebenarnya aku lebih suka duduk-duduk di halaman bangunan kuno Russia, sambil memberi makan sekumpulan burung merpati.”

“Plak”
dengan tanganmu yang mungil, kau pukul kepalaku.

4)

Restoran cepat saji. Tempat di mana orang-orang miskin Amerika menyantap makanannya. Tempat dimana-menurut orang-orang di negara berkembang sangat prestise untuk menghabiskan waktu sambil makan kentang goreng dan minuman soda bersama keluarganya, kekasihnya, atau kekasih yang bukan kekasihnya. Tempat dimana rahasia dibebaskan, kebohongan dan kebenaran disatukan. Tempat dimana saat ini aku duduk di depanmu.

Aku seperti seorang penyelam yang hendak mencari mutiara di kedalaman matamu. Kau seperti seorang wisatawan yang ingin tersesat di hutan dongengku.

Sepotong junkfood segelas Coca Cola. Kita habiskan tanpa perlu ada yang memulai basa-basi. Tawa yang tak mau putus. Tanpa peduli pada bangku-bangku restoran warna cerah, orang-orang mengantri, dan pelayan yang mulai bosan memasang senyum palsu.

Malam menjadi kertas paling setia untuk menulis kisah kita. Sementara semakin dalam memasuki hutan, adegan harus dihentikan. Waktu ditabung dalam jam digital, untuk rendezvous tak rencana berikutnya.

5)

Kuda-kuda telah dibunuh dan diganti oleh revolusi industri. Kereta mesin roda dua dengan kecepatan seratus kuda.

Di atasnya kuajak kau melewati jalan-jalan yang menunjukkan kepongahan republik ini. Dimana orang memamerkan seluruh kekayaan di sepanjang jalan. Jalan-jalan gaduh, jalan-jalan kesunyian.

Kecuali itu, malam dan aku sedang mengantarkanmu menuju pintu rumahmu.

6)

Siapa mengira bahwa kita punya imajinasi sama. Bercinta di toko buku. Di antara ribuan tumpukan buku yang mengeluarkan aroma khas. Di antara jutaan lembar kertas. Tempat dibukanya gerbang menuju negeri-negeri dongeng, tempat dibukanya lubang bumi menuju kolong-kolong angkasa.

Disitu. Kau membaca aku, aku menulismu. Menjadi ribuan puisi, membentuk mozaik jantung. Jantung yang memompa darahku satu demi satu, menghitung nafasku agar lebih banyak dari waktu.

Lagi-lagi kaulah peta, tempat bajak laut rakus sepertiku menemukan harta karun yang tak habis dimakan seluruh dunia.

7)

Hari ini adalah hari ke 200 setelah pertemuan pertama kita. Setelah jalan bersekutu dengan waktu. Membuat ruang kecil di antara kita. Ruang kecil yang makin lama makin melebarkan dirinya.