I. RINDU

Selalu kamu adalah utaraku,
dan rindu ialah jarum kompas yang senantiasa mengarah kesana
Karena tiada yang sehangat hatimu, dimana ingin kurumahkan segala rindu

Dan akan selalu ada namamu, disetiap doa-doa yang menutup mata malamku
seperti harapan-harapan yang kuterbangkan ke langit hitam
agar Sang Esa mengamininya dengan jatuhan bintang

Kemudian, kau akan jadikan aku yang menumbuhkan kebun bunga di dadamu,
dan memayunginya dari hujan kecil; dari pelupuk matamu
Karena di mataku, matamu adalah peneduh rindu yang rapuh
Dan kehadiranmu disana, selaksa penemuan Adam akan pagi, pertama kali

Inilah aku,
Sesederhana rinduku, hanya inginkan hadirmu di dalam pikiranku
sebagai peredam keinginan untuk memaksakan temu
dan kata-katamu, ialah pelengkap segala rindu
dimana malam-malam sepi tanpamu digenapkan

II. JAUH 

Meskipun sesekali, batinku terganggu
oleh kehadiran namanya dalam balut suaramu
tiada pernah hati ini lelah, memeluk cinta untukmu

Namun mengapa aku, jadi satu-satunya yang tidak bisa memintamu?
Sedang kau, selalu tahu bagaimana menaklukkanku.

Sayang, berbahagialah,
berpura-puralah tidak peduli kesakitanku
agar aku makin ikhlas melepasmu

Agar kau mengerti nanti suatu hari
meski kau merentangkan peluk untukku
tiada tempat untukku bersandar

“Kenapa kau masih mencintaiku?”
“Karena tidak mencintaimu melumpuhkan nafasku.”

Kuhargai kebahagiaanmu,
dengan cara tidak mengganggunya

Meski pada pertemuan kita nanti, matamu mungkin berbinar-binar
dan di dadaku ini, kembang api berbingar-bingar

Dan jangan tanya tentang musim pada bulu-bulu mataku.
Mereka hanya mengenal satu sejak pergimu, hujan.

III. HANCUR

Ini aku, di liang kuburku berserakan
memunguti repih-repih kecil diriku yang terpisahkan
debur makianmu yang menghancurkan
kemudian disusul dengan sebuah kepergian

Hatiku selalu menanyakan perihal kepulanganmu padaku, mungkin dia kesepian
Dan saat kau tak kunjung kembali, aku selalu mengira-ngira kau lupa jalan pulang
Hatiku menunggu, bertahan dalam kerapuhan, diterjang ribuan badai rindu usang

Seandainya kau mengerti, sayang
Diabaikan, adalah perasaan paling mematikan keyakinan
dan pengabaian, adalah jarak terpanjang semesta

Suatu hari, setiap manusia akan dihadapkan pada sebuah dilema besar:
merelakan orang yang dicintainya, demi melanjutkan hidupnya sendiri
dan inilah aku, yang berusaha melepasmu, demi kebahagiaan untukmu

Aku semestinya ingat bahwa aku harus melupakan segala ingatanku tentang kamu
Namun kita tetap bersama, dan menikmati hitungan mundur hingga perpisahan tiba

dan ketika kutemukan namanya di matamu
tak lagi kutemukan tempat untukku berteduh
Aku, cinta sejati yang tak kau perlu
Aku, cinta tulus yang tak kau mau

Aku, ingin menjadikan selamanya lebih dari sekedar kata-kata
namun doamu bukan untuk berakhir di pelukanku
maka jadilah hujan di mataku, hanya untuk menangisimu
yang hanya menangisi ketidak berdayaanmu mengejarnya

Maka inilah aku, di palung nadirku yang paling; tenggelam
oleh sisa-sisa air mataku yang terlalu debur untuk kulawan