BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku menerima kiriman ini:
sore berwarna merah hati seperti bibirmu
belepotan dengan daun sirih dan pinang
juga dongeng yang tak menemukan akhirnya

tentang lelaki yang suka bersenandung
setiap mendengar malam jatuh di bubungan
dan seorang perempuan yang hidup
dengan telinga di setiap ujung rambutnya

BEBERAPA hari setelah kau pergi
aku akhirnya membuka jendela kamar
dan menemukan hujan membuat danau
di sepatu kiriku dan laut di sepatu kananku

lima jari kakiku jadi anak kecil di danau itu berenang
seperti waktu tak punya kemauan untuk beranjak
lima jari kakiku yang lain bersiap jadi perantau
berlayar menunggang ombak mencari jarak
ingin segera melupakan waktu yang bergerak

BEBERAPA hari setelah kau pergi
di langit aku berjumpa dengan bulan
tipis seperti sesungging senyum yang enggan
dan awan abu-abu seperti seragam yang kotor

aku mengenang senyummu di sebuah pagi
ketika usiaku belum pantas menyebut-nyebut
perempuan, pelaminan atau malam pertama
dan kau memegang kelaminku yang belum disunat

BEBERAPA hari setelah kau pergi
pohon-pohon kopi di belakang rumah
memasang musim semi di rantingya
bunganya membawa kembali nafas,
aroma konde dan pelukanmu ke dadaku

pohon-pohon kopi itu kau yang tanam
sebab katamu kau benci kopi kemasan
pohon-pohon itu kau wariskan kepadaku
agar aku selalu lebih cerah dari matahari