Dia terduduk di bawah sebuah kota yang terbuat dari kerapuhan, memandang ke luar jendela yang tak benar-benar ada (seperti jendela yang dicuri dari mimpi seseorang). Padang rumput hijau, hutan-hutan seluas fantasi.

Dia melihat sekumpulan anak kecil yang sedang menanam pohon-pohon plastik, membangun rumah-rumah plastik, membuat manusia-manusia plastik, tubuh mereka sendiri.

Seorang gadis kecil yang berwajah langit menuju ke arahnya, melangkah malu-malu sambil memberinya sebuah bunga, bunga plastik.

“untuk kehidupan kita yang lebih baik” kata gadis kecil itu.

Dia tersenyum lalu membuang bunga itu jauh-jauh, jauh ke dalam jantungnya sendiri.

Di ruang ini tiba-tiba segalanya jadi begitu mudah memuai, sunyi memuai, kecemasan memuai, udara memuai, televisi memuai, kota-kota memuai. Lalu segalanya menghilang.
Kecuali tubuhnya. Tubuh plastiknya.