“Berada bersamamu atau tidak bersamamu adalah satu-satunya cara yang kupunya

untuk menghitung waktu.”
 – Jorge Luis Borges
suatu saat nanti akan banyak ditemukan, sebagian – sebagian
sebab telanjur dilarang oleh seseorang yang disebut pejabat raja
ada yang terus menerus menggali
menggali sambil melawan, melawan sambil tersenyum
seseorang yang tidak percaya hukum buatan manusia
yaitu si anak gembala
rumahnya di pinggir sungai
pintunya batu setinggi orang dewasa
diteduhi pepohonan, dirimbuni tetanaman
apa yang digembalakannya?
bukan kerbau bukan kambing,bukan banteng atau harimau
tapi daun lontar dan bebatuan
dia menggali dengan santai
mengumpulkan semua temuan
sebagian dirahasiakan
sebab belum saatnya untuk dipertunjukkan
Kamu pasti ingat saat kita tenggelam di pusaran konstelasi semesta saat itu. Aku masih ingat kamu meneguk air untuk kecantikanmu dan aku mereguk air untuk keabadianku. Lalu kita berenang bersama ke pusat tempuran sungai, danau sementara yang arusnya meliuliuk labil. Saling memagut, berseteru, berisik, musik, mengalun hingga laut selatan. Seperti kita dan ingatan kita, melebur menjadi entitas asing. Ya asing, setidaknya untuk kita berdua. Sebagian ingatan kita meresap ke tanah,sebagian lagi terbang ke angkasa. Sisanya ,sampah – sampah  ingatan kita,berlabuh di muara pantai selatan. Sampah – sampah ingatan yang membuat kita berdua saling melupa rasa bibir, melupa rasa senyum dan melupa rasa air mata.