Entah mengapa, saya tidak pernah bisa bersahabat dengan Bapak.

Selalu ingat masa kecil, ketika itu semua murid di kelas disuruh membuat puisi tentang ayah, lalu aku buat puisi pertama dalam hidup – Tentang Ayah. Puisi itu paling besar nilainya diseluruh kelas 6 SD dan ibu guru menyuruhku membacakannya di depan kelas.

Sepulang sekolah, bapak sedang asyik baca koran di ruang tamu, dengan tersipu aku memamerkan karya itu, dibacanya puisi “Tentang Ayah”, matanya nanar dan Bapak lama terdiam, lalu berkata, “Buat siapa ini? Siapa ayah?”

Puisi itu seakan kosong, karena aku menyebut kata “ayah” disana bukan “bapak” sebagaimana biasanya. Mungkin beliau iseng, mungkin pula tersinggung.

Dimulailah jarak antara anak dan bapak. Membuatku selalu takut dan menjadi pembohong kecil. Apa yang dimataku benar, belum tentu benar versi bapak. Selalu begitu. Hingga suatu saat, aku melakoni sebuah pertunjukan kesenian di Gedung Kesenian Jawa Tengah, Bapak tidak masuk dan menonton anaknya. Aku yang ketika itu berusia 13 tahun, sangat ingin ditonton. Namun kenyataannya, Bapak malah duduk manis diatas motor sambil mendengarkan radio kesayangannya, menunggu di luar dengan alasan, “Males nonton, harus bayar, sayang bayar 5000.” Jujur aku sakit hati, tapi Bapak adalah Pendekar Kebenaran, apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang harus aku ikhlaskan.

Aku mulai banyak menulis, tentang apapun, tentang keinginan-keinginan masa kecil yang sulit tercapai, tentang uang saku yang cukup untuk jajan puas bila dikumpul tiga hari dan tentang teman-teman yang memusuhiku karena seorang penjual koran. Ya, aku si penjual koran yang menjajakan dagangannya selepas pulang sekolah di sebuah traffic light terminal induk dan terkena razia trantip kota. Lalu dipanggil guru BP dan seluruh sekolah mempermalukan, tapi sampai detik ini Bapak tidak pernah tahu. Jangan sampai tahu.

Aku sangat cinta Bapak makanya aku sering duduk diam di sebelahnya, menunggu diajak ngobrol. Inginnya aku curhat banyak, tapi belum selesai aku mengutarakan pendapat, Bapak selalu menyanggah dengan arogan mengaitkannya dengan kehidupan pada masanya. Dan tidak dapat dipungkiri, obrolan diisi dengan rally-rally panjang perdebatan dua era yang berbeda.

Aku tetap cinta Bapak, walau Bapak pernah memangkas habis rambutku agar aku malu mengikuti rapat Karang Taruna Kecamatan, rapat temu ganjen remaja, kata Bapak. Aku tidak setuju, lalu dimulailah perang mulut, aku merasa benar, apalagi Bapak. Setelah memangkas habis rambutku, ucapan-ucapanku membuat bapak berang hingga main tangan, aku ditampar lalu di dorong ke pintu, muka dan hidungku berhasil mendarat di gagang pintu. Alhasil, separuh wajahku biru. Itu hari menjelang ujian di sekolahku, dengan terpaksa aku ke sekolah dan bilang sama teman-teman wajah biru ketabrak becak. Bapak minta maaf, tapi jarak itu belum luluh dan semakin lebar. Bapak yang pemarah pernah memecahkan gelas dan lagi-lagi aku tertimpa musibah. Beling pecahan gelas menancap di telapak kakiku lalu memanjang hingga menjadi luka yang dalam. Bapak panik dari situ Bapak menangis, “Bapak sayang sama Yudhi, Bapak tidak mau salah mengajarkan, Bapak harus keras karena kamu anak pertama dan satu-satunya anak lelakiku. Maafkan Bapak lagi ya.”

Aku si penyanggah, si anak yang tak mau kalah, cuma menangis dan memeluk Bapak. Dalam hati aku buat tekad harus sukses buat bapak bahagia. Ternyata hancurnya gerbang jarak antara aku dan Bapak adalah awal dari perjuangan hidup. Bapak di PHK, untungnya keluargaku sangat sederhana. Tidak ada perubahan yang kentara, menu makanan di rumah tetap sama, dan Bapak enggan dikasihani.

Dengan tabungan secukupnya kita membuka toko baju namun gagal, beberapa bisnis Bapak jalani, tapi gagal juga. Akhirnya aku memutuskan untuk bekerja di kelas 1 SMP, semata untuk tidak menyusahkan Bapak. Walaupun awalnya aku tidak disetujui, namun Bapak mengalah pada kemauanku yang keras. Di usia 17 tahun saya hijrah ke tengah kota seorang diri dan meneruskan belajar di sebuah perguruan tinggi sambil mencari-cari pekerjaan paruh waktu.

Aku berbohong sama Bapak, hidup ku di tengah kota dan di lingkungan pendidikan, 8 bulan tanpa kerja yang jelas, semua kerjaan aku ambil. Tapi aku diam dan sama sekali tidak cerita sama keluarga, sampai suatu saat aku lelah sendiri. Dalam doa aku bilang sama Tuhan, “ Aku kan janji bikin Bapak bahagia, izinkan aku dapat kerjaan yang bener ya Tuhan, aku pengen adikku terus bersekolah, aku ingin bantu Bapak.”   Hebatnya kekuatan doa meminjam nama Bapak, besoknya aku diterima kerja dan bisa membantu bapak membayar uang sekolah adik.

Sekarang aku rindu Bapak, rindu dimarahi, dibentak dan rally debat kusir hingga dini hari. Tetapi itu tidak mungkin. Bapak sudah nyaman dengan usia dan ketenangan pola pikirnya yang semakin bijak menyikapi segala permasalahan.

Minggu kemarin Bapak kirim sms saat aku keluar kota, “Assalamu’alaikum, Malam yud sudah tidurkah? kalau belum tidur, sekarang kamu lagi  mengerjakan apa? Sudah sholat kan?  sudah makan kah? Jangan lupa banyak istirahat ya, kamu kemarin kan lagi kurang enak badan. ya sudahlah, bapak cuma mau sekedar mengingatkan kamu. Bapak berharap pekerjaan dan urusan kamu disana lekas selesai. Wassalammu’alaikum ”

Tidak seperti biasanya Bapak sms sepanjang itu, Meskipun hanya sekedar untuk mengingatkanku tapi sms itu membuat aku haru. Aku membalas sejam kemudian dan aku tidak bisa berhenti menangis.

Bagaimana pun juga, sekasar apapun Bapak kita, jangan pernah memendam dendam. Tiap ayah, papa, papih atau bapak, punya banyak cara untuk bilang sayang terhadap anaknya. Bukan bermaksud menggurui atau menasehati akupun pernah bertindak bejat terhadap mereka baik yang aku sengaja ataupun tidak, tetap cintai orangtuamu dan berikan perhatian kecil selagi masih diberi kesempatan untuk membahagiakan mereka.

🙂