Hujan rintik-rintik. Aku duduk di teras menyesap kopi yang sudah dingin. Sudah satu jam aku duduk di sini. Kupejamkan mata, menikmati hawa dingin dan musik alam. Langit mengucapkan salam perpisahan. Ini musikku, pengantar pergiku.

Kulirik ruang tamu, melihat koper kulit hitam yang bertengger di dinding putih. Kuamati seluruh ruangannya, mungkin untuk terakhir kali.
Aroma kopi dingin membawaku pada tahun-tahun yang lalu. Kami yang memegang buku di tangan masing-masing, seakan sibuk membaca, ditemani hujan yang seringkali datang. Kami yang berkutat dengan pikiran masing-masing, mencari kata untuk diucapkan. Buntu. Akhirnya hanya keheningan yang bicara. Keheningan yang memesona.
Entah sejak kapan keheningan itu pecah. Kami mulai bicara. Lebih dari itu, kami mulai berteriak. Saling memaki, mengalahkan suara hujan. Darah mendidih di kepala, tak juga mereda melihat air matanya.
Dia yang pertama berhenti bicara. Dia yang berhenti duduk membaca di teras. Mungkin muak pada hujan, atau pada keributan, atau padaku. Sejak itu aku selalu duduk sendiri, masih ditemani secangkir kopi dan keheningan. Kadang-kadang buku. Tapi kali ini keheningan yang sepi. Pesonanya sudah menguap. Pesonanya sudah muak padaku.
Kami masih di sana, di rumah yang sama, cuma teras yang tak kami bagi. Entah kenapa kami bertahan. Entah apa yang dia tunggu. Entah apa maksud lirikannya padaku setiap pagi. Entah apa maksud bibirnya yang membuka, lalu mengatup tanpa sempat bersuara. Entah kenapa aku bergeming.
Pernah suatu pagi ia tersenyum kecil, membuatku seperti dihujani ribuan mawar. Manis, namun menusuk. Betapa ia masih mau tersenyum padaku. Aku yang bodoh hanya bisa terpaku, tenggelam dalam pikiran sendiri, lalu melewatkan satu kesempatan itu. Kesempatan terakhirku kelihatannya, untuk mengembalikan keheningan penuh pesona yang diam-diam aku rindukan.
Kusesap lagi sisa-sisa kopiku. Hujan bertambah deras, memberiku sedikit waktu tambahan untuk duduk di sini, menikmati hal-hal yang tak pernah kupedulikan selama ini. Betapa indah segala bunga-bungaan yang ia rawat di halaman, betapa banyak buah-buah jambu yang mulai matang. Ah, dulu kami sering membuat rujak dari jambu di pohon itu.
Kulihat barisan semut mengangkat serpihan makanan di lantai. Ada seekor yang terpisah, hanya bisa diam. Hahaha, seperti aku. Aku tersenyum pahit. Satu-satunya yang kusesali saat ini adalah diamku, kebodohanku, yang begitu kusadari sudah terlalu terlambat untuk mengubahnya. Tapi aku telah berubah, aku telah berjanji pada diriku sendiri untuk berhenti diam. Kusesap kopiku, sesapan terakhir.
Lalu entah bagaimana muncullah dia, dengan segala pesonanya yang masih bisa membuatku terpaku sejenak. Dia duduk di sana, di kursinya, yang telah terbiasa kesepian sejak berwaktu-waktu yang lalu.
Tekadku menguap. Aku hanya bisa terdiam. Lalu aku mendongak dan langit begitu cerah, hujan telah berhenti. Langit tersenyum padaku. Tak begitu indah dibanding senyuman waktu itu, senyuman kecil yang aku lewatkan. Kali ini tak ada lagi yang boleh aku lewatkan.
“Aku merindukannya. Saat kita berdua, hanya keheningan yang bicara. Keheningan yang memesona.”
Aku menunduk sewaktu mengucapkannya. Tapi ada keinginan yang mendesak untuk melihat wajahnya, melihat… sesuatu.
Dan di sanalah yang kucari. Sebuah senyuman yang meruntuhkan benteng pertahananku. Air mata mulai menggenang di pelupuk mataku, lalu kuberikan senyuman terbaikku padanya. Sungguh rasanya seperti melepas berton-ton beban dari pundak. Semua penyesalanku seakan menguap.
Setelah itu kami hanya diam, seperti dulu, berkutat dengan pikiran masing-masing. Kali ini kami tidak mencari kata untuk diucapkan. Hanya menikmati keheningan terakhir kami, keheningan yang memesona.
Aku tahu, sudah terlalu terlambat untuk mengubah apapun. Sejuta kata, sejuta senyuman yang kuberikan pun hanya akan berarti perpisahan. Sekarang hujan sudah berhenti, sudah kudapatkan yang kurindukan… inilah saatnya.
Aku bangkit, tersenyum padanya sejenak untuk terakhir kali, lalu mengambil koper hitam di ruang tamu. Ia mengantarku sampai di pagar. Tak ada lagi senyuman, hanya matanya yang sepertinya bicara. Aku terlalu kacau bahkan untuk sekedar mengartikannya.
Kulangkahkan kakiku menyusuri jalanan berbatu, sambil menendangi kerikil-kerikil yang menghalangi jalan. Belum apa-apa pikiranku sudah melayang lagi padanya. Kukira senyumnya telah mengangkat semua penyesalan, ternyata salah.
Hanya beberapa kalimat sederhana. Seandainya kalimat tadi kuucapkan lebih awal….
“….”
Samar-samar kudengar suaranya memanggil namaku. Aku berhenti, menoleh. Tak ada siapa-siapa. Tiba-tiba kudengar suara nyaring yang familiar, kemudian sesuatu membenturku keras. Aku terbang, terpelanting jauh. Kulihat langit kembali hujan, sebelum kemudian semuanya menjadi gelap. Ah, langit bernyanyi. Ini musikku, pengantar pergiku….