Mengapa kau ikatkan rantai rantai pada kakiku? Mengapa kau pendam jiwaku dalam keterasingan yang kekal? Supaya aku tidak bisa terbang? Supaya aku tidak bisa melompat?. Sesungguhnya itu hanya ketakutan ketakutanmu saja. Bahwa kau tak ingin mendekati matahari senja itu sendiri, bahwa kau tak mau melawan sepi itu sendiri.

Jangan memelihara kegelapan yang belum terjadi. Terang ini masih bisa kita nikmati. Cahaya ini masih setia menghujani. Jadi bersenang senanglah. Berbahagialah.

Aku tahu, engkau sedang menahan perih yang bertubi tubi, menghakimi, menjalar cepat, seperti tubuh yang diserang bisa. Hampir melumpuhkan apa yang ada. Namun memang begitu jalannya. Sama seperti ketika Adam menjalani hukumannya, dijatuhkan ke bumi tanpa ditemani siapa siapa. Kitapun akan seperti itu nantinya. Aku, kamu, dia, semua.

Aku sadar, harusnya aku duduk di sampingmu, menjaga nyala itu agar tetap berpendar, menghitung jumlah senja yang lewat depan cuaca. Tapi, aku bukanlah seorang bocah pengoleksi mobil-mobilan lagi, aku bukan seorang bocah yang bercita cita menjadi pelukis lagi. Aku adalah seorang lelaki yang hendak mencari bayangnya, lelaki yang harus menembus tirainya. Menggenggam dunia di tangannya.

Apa kau tak juga menyadari? Waktu selalu berjalan beberapa langkah lebih cepat di depan cahaya, selalu menandai dosa dosa, selalu menandai keriput usia. Tak ada yang akan berubah, jika kaki kaki masih menapak bayang sendiri, tak akan ada yang menjadi indah jika kita masih memenjarakan diri.

Jadi, biarkan kubantu engkau mengubur ketakutanmu, melarung jauh kegelisahanmu. Lalu lupakan mereka, jangan pernah biarkan mereka bangkit lagi di kepala. Sepersekian detikpun jangan.

Kini adalah saatnya kita patahkan rantai rantai itu, kita hancurkan cengkeraman belenggu. Kemudian kita ambil ancang ancang untuk berlari, perlahan, cepat lalu lepas kendali. Mulai saat ini. Ya saat ini, saat aku tulis titik terakhir paragraf ini.