kusapa lagi engkau dari padang ilalang
merayap ke lakumu yang cemerlang
namun hening, masih saja hening
waktu, seperti kesunyian tua
yang terbuang

kau lukis matamu sendiri di keningku
lengkap dengan lingkar cahaya yang berpendar
“tempat kita berteduh saat hujan” katamu
sebelum akhirnya kau tertiup kenangan
melukai luka dengan senyuman