(Kekasihku, ketika kau menerima surat ini, jangan terkejut jika burung hantu penghantar surat itu langsung lenyap. Karena sesungguhnya dia hanyalah jelmaan sepiku.)

1.

Kekasihku, ini adalah surat pertamaku untukmu sejak aku menginjakkan kaki di kota ini. Ya, mungkin terlalu lama untuk sekedar memberitahumu bahwa aku masih ada untukmu. Bukan. Bukan karena aku tak peduli padamu, tapi aku merasa terlalu banyak bayangan yang merantai tangan dan waktu disini.

Kekasihku, seperti yang pernah aku katakan padamu, aku adalah seorang lelaki yang sedang mencari nafas di kota seberang. Beberapa ribu rindumeter jaraknya darimu. Nenek moyangku pernah bilang, lelaki itu memiliki nafas yang lebih panjang daripada wanita, tak cukup hanya berdiam diri saja dalam lingkaran untuk menghirupnya. Dia harus berjalan, beberapa langkah menuju depan, untuk melengkapi separuh nafasnya. Menyempurnakan takdirnya.

Kekasihku, kota ini mirip kebun mimpi raksasa. Setiap orang berhak dan berbondong-bondong menaburkan benih mimpinya disini, dimana-mana. Tak boleh ada tempat yang tersisa disini. Bahkan seperti sebuah sistem tanam paksa, disini semua lahan harus ditanami mimpi, dan tentu saja harus merawatnya. Jika tak dirawat dengan baik, mimpi-mimpi itu bisa layu lalu mati begitu saja. Dan ketika mimpi itu mati, rasanya seperti sebuah kiamat kecil. Cuma ada dua pilihan untuk kita. Menyusul mimpi-mimpi itu ke dalam kuburnya, atau menanam kembali benih mimpi baru. Dan tentu saja jika itu terjadi padaku, aku akan memilih bagian yang kedua.

Kekasihku, kau tahu tujuanku ke kota ini, selain untuk menggenapi nafasku? Ya, untuk menanam benih mimpi ajaib. Benih yang Tuhan pernah berikan padaku di bukit Azali. Benih mimpi ajaib ini jika ditanam, dan telah tumbuh besar, dia akan berbuah, jika buah itu dimakan, dia bisa menumbuhkan sayap di punggung kita. Lalu kitapun bisa terbang layaknya burung. Ketika sayap itu telah menjadi begitu kuat, nantinya kaupun akan kuajak terbang menuju negeri-negeri yang belum pernah kau kunjungi sebelumnya.

Kekasihku, kau mungkin juga perlu tahu, bahwa sesungguhnya kota ini mirip siluman. Kadang dia bisa menjadi wanita paling bidadari yang menggairahkan, tapi di lain waktu dia bisa menjadi sebuah monster mengerikan yang bisa memakan seluruh penduduk kota itu sendiri. Monster itu terbentuk dari jutaan logam yang menyumbat jalanan, makhluk-makhluk plastik dari dalam sungai, juga udara sadis yang bertubuh hitam.

Kadang aku merasa takut sendirian disini. Berjalan dengan kaki yang belum tegak, melewati gang-gang waktu yang sempit, malam-malam yang lebih gelap dari kenangan, menghadapi diri sendiri yang lebih menyeramkan dari rasa takut. Atau menaklukan masa depan yang hanya berwujud sebagai kamuflase. Berat rasanya.

Ketika malam, aku berpikir untuk memindahkan usiaku di dekat usiamu saja. Hingga angka yang tak terhingga. Menepi di tepi kotamu saja. Aku tak ingin membunuh diriku, keluargaku, dan anak-anakku kelak dengan hantu-hantu kota yang memakai topeng malaikat disini. Penuh pesona, tapi menyimpan belati di punggungnya.

Namun kau selalu menjadi pancaran cahaya. Dari jauh, menuntunku untuk terus berjalan walau gelap. Mengirimiku energi, agar tak lelah merawat mimpi ajaib itu hingga berbuah, agar kita bisa makan buahnya, lalu terbang bersama-sama.

2

Kekasihku, seseorang pernah berkata padaku; bahwa kita harus seperti air, terus mengalir dari tempat tinggi ke tempat yang rendah, namun bukan berarti kita lemah. Karena sebuah aliran airpun bisa memporak-porandakan seluruh kota.

Kini kita adalah air dengan ujung yang melawan arah.

Suatu saat sambil menatap langit kau pernah bertanya padaku: “apa kau tak sedang merindukanku” kau nampak khawatir, kalau-kalau di tempat sejauh ini, cintaku terjatuh di got, lalu karena aku tak tahu. Seekor kucing yang mengendusnya buru-buru memakannya. Tak bersisa. Ketahuilah kekasihku, aku adalah orang yang tak mau sombong tentang apa yang aku punya, tapi jika kau ingin tahu, seluruh almariku telah tersimpan berjuta-juta rindu.

Kekasihku, cinta kita pernah berunding bahwa mereka akan hidup berdua, membangun sebuah rumah kecil, keluarga kecil. Membesarkan anak-anaknya berdua. Entah dimana, yang jelas mereka sepertinya bukan sedang bercanda. Kita? Cuma tersenyum dan saling menganggukan kepala penuh makna.

Kekasihku, tubuh kita memang jauh, tapi cinta bisa menjadi sebuah lem paling kuat yang merekatkan hati kita. Sayangnya tak ada bola kristal yang benar-benar bisa melihat masa depan seperti dalam cerita dongeng, yang bisa kita lakukan adalah saling mengenggam tangan, terus berjalan lalu berlari bersama.

Kekasihku, ketika kau percaya bahwa Tuhan akan selalu menjaga kita, kau juga harus percaya bahwa aku akan selalu menjaga cintaku.

Kekasihku, surat ini memang bukan obat mujarab. Akhirnya maafkan aku jika penyakit rindumu kambuh kembali ketika kau baca baris terakhir suratku. Aku janji untuk segera mengirim obat rindu berikutnya.

Kekasihmu.

dari secarik kertas usang tertanggal 02-12-2003