Di khatulistiwa biru yang hampir tak lagi menjadi garis,
aku cari namamu, sambil menangis…

Semesta tanpa kata, hening manusia.
Hanya burung-burung yang menyamar menjadi biduan tengah senja.
Sebentar lagi matahari lari, merelakan bulan menikahi kekasihnya sementara.
Langit masih gagah saja, menanti pasangan malamnya kali ini yang berwujud purnama.

Tidak ada pesan yang dapat aku baca, selain rasa angin.
Menunggu kamu hadir di depanku, seperti ribuan malam silam.
Dipaku kenangan, yang tidak pernah aku nisankan.

Tidak lagi pernah kulihat sabit, sejak kamu pergi.
Hanya ada kupu-kupu sakit, yang belum juga mati.

Sayang, dimana kamu.
Aku menunggumu, disini, seperti ribuan malam silam….