Aku ingin suatu saat nanti mengajak kau berjalan-jalan ke pasar malam. Hanya aku dan kau, kita berdua. Pun tidak dengan bayangan satu sama lain. Meninggalkan duka dan lara. Juga beban yang ada. Hanya membawa diri serta tawa dan canda.

Kita mulai menikmati kembang api yang menyala. Sambil tertawa di atas bianglala.

Aku akan mengajarimu untuk tidak takut lagi dengan makhluk bermulut lebar, berambut keriting, bernama badut. Merayumu agar mau foto bersamnya. Menenangkan teriak kecilmu sambil meyakinkan bahwa aku masih disini, bersamamu.

Setelah itu kita mencoba segala permainan. Mulai dari lempar bola berhadiah boneka beruang hingga ikut meramal segala.

Ah, iya. Tidak ketinggalan hal kesukaanmu. Permen gula kapas berwarna merah muda itu. Aku selalu tertawa terbahak mendengar kau menyebutnya ‘permen rambut nenek’. Entah dari mana kau dapatkan nama itu.

Tak peduli terhimpit desakan di tengah kerumunan. Hingga tanpa sadar tangan kita saling menggenggam. Takut tersesat, takut kehilangan.