Jendela kamar tidak pernah kubuka lagi. Biar saja nanti kau yang membukanya untukku. Suatu hari. Aku sedia di sini tak beranjak ataupun jem. Dalam riasan tipis berniat menonton pesta kembang api, seperti biasa berdua saja denganmu.

Tapi ini senja yang muram, agak terlalu lama aku menunggu waktu yang belum tentu. Kita cuma menduga kelak apa yang kita lakukan untuk tuntaskan rindu. Sudah banyak waktu menanti aromamu. Aku dan seisi kamarku ingin kamu ada disini.

Tersenyum dan bersiap kapan saja kau datang. Dari sebagian harapan yang menua di ujung peluk. Aku takkan bergegas karena denganmu tak pernah kumerasa cemas. Aku berumah di dadamu, di dalamnya ibu dari semua rasa bermuara.