Alangkah nyamannya  mengenal ujung matamu
Biduk perayu yang sering mengeja awan jelang petang
Rumput-rumput goyang pelan menuju arah angin selatan
Bulan menerang…

Pada buai rindu yang klimaks, aku enggan berbagi satu kata pun
Cerita dapat mengenyahkan rasa
Kabut alasan berputar di kepala
Lalu layu di jentik jemari logika

Ya, aku kalah lagi

Berjuta masa yang silam
Kita pernah beradu serang
Kau dengan rerimbun akar bayang
Aku dengan janji ikuti poros matahari

Impian berpilar warna menapak pelangi
Sedikit menyentuh langit namun kembali pula ke bumi

Kita bisa cemburu pada apa saja, namun alam tak sempat menuliskan dosa-dosa kita
Genangan air surga yang diintai cahaya perak bintang
Lalu, kau bisikan ancaman
“Jangan berpikir tentang lupa, atau kubidik sumsum otakmu agar hilang ingatan.”

Kita pegangan tangan, menangis di tumpukan kardus kenangan, seakan kemesraan akan menua

Melihat bibirmu yang sunyi, aku menarikmu ke tempat sepi
Menyumblim pasrah pada sekitar
berubahlah tubuh menjelma cahaya yang asalnya dari airmata
Menari kita dengan tubuh yang lebih kecil

Berpijar memeluk tenang menjadi kunang-kunang