Kau, hening yang menggetar gendang rapuh telingaku,
sebuah tembang mengeja bimbang

Dahan matahari membelai jagaku, meraba angka dalam raga
Hingga masuk dalam liang pengorbanan
Menutup mata butakan senja

Seonggok sosok yang menabuh genderang fajar, sebening mata gadis pertama jatuh cinta
Membumi, mendekap ranah basah endapkan air tanah

Meretas sopan angan, menjelma petunjuk serupa cahaya menuju rupa dunia
Gelap melepuhkan ide

Hirupku paling windu, hanya kamu
Esa sewangi, hangat bukan birahi
Melejit menuju organ penghidup sukma

 

Berdetak tik tak haru hura canda manda
Amini sunyi, ragumu tenggarai rasa

Di sisiku kau tanggul penadah air mata

Cap cip cup, itu cinta katanya
Kuremas pagi, cium lembut petang
Kukecap siang malam, menahun bertahan
Tanpa lupa khayalan

Memintal sintal amal kiasan
Semua menjadi satu kesan

Dan aku lupa,
Waktu, sewaktu-waktu mesti beku pada kaku-kaku kukumu