langit terpulas riasan muram sempurna
gemulung awan kelabu menggelung
semilir dingin angin memeluk erat hangat

 

kekasihku, mentari, bintang tergarang di langit
gusar di singgasananya

 

ia terancam, kesedihan panjang
mengadu padaku tentang gaduh yang riuh

 

petir sedang nakal memekik menjerit binal
mengganggu seisi langit yang tengah dibuai angin
pasti badai sekejap lagi

 

aku mencangkung kaki di beranda rumah
mengunyah kue remah dengan pipi memerah
menyaksikan langit sedang dikudeta

 

sepasukan mendung berdansa dengan petir
menerjangkan gerimis besar membulir
langit pesta duka
angin mengamuk tanpa dinyana

 

bukan kekasihku jika tak melawan
sedang hujan kian deras dan badai mengencang, dia berjuang
bangkit dari balik perdu-perdu awan

 

ini rencana siapa?

 

aku tertawa, sebentar lagi yang kunanti hadir
hujan dan selarik pelangi