“Bagaimana jika surga itu hanya omong kosong belaka?”

Pasti kita meledak tak terkendali. Berbuat apa saja seliar nafsu, melesat ke langit, atau tersungkur ke pusat bumi. Aku akan menjilat nodamu. Kau akan menodai lidahku. Orang-orang membuat surga sendiri dengan cara mereka. Orang-orang hilang arah tujuannya, tapi orang-orang juga tak lagi berdebat, tak lagi saling bunuh, hanya untuk membela “hanya surga Tuhanku yang paling nyata”.

“Bagaimana jika nyawa kita hanyalah pinjaman yang akan segera diminta”

Pasti kita akan menggenggam erat-erat nyawa itu di tangan kita. Kalo perlu menyimpannya dalam peti dengan gembok paling kuat, dengan kode paling rumit. Berusaha bagaimana caranya agar nyawa itu tak berpindah tangan ke penagih nyawa. Tapi ternyata semua itu sia-sia, si penagih nyawa dapat dengan mudah menemukannya. Ketika tinggal sepersekian detik dia mengambil nyawa, kita coba rayu dia, menawarkan seluruh apa yang kita punya, harta kita, laut kita, pulau kita, asal nyawa jangan diminta. Tapi sia-sia. Hingga kitapun memakai cara yang paling gila, mencoba menikamkan pisau ke tubuhnya. Percuma. Tak berpengaruh apa-apa buat dia. Dengan mudah dia mengambil nyawa itu, lalu pergi, tertawa puas layaknya raja duka dari seluruh dunia.

“Bagaimana jika akhirnya Adam tak pernah makan buah khuldi ketika dulu di surga?”

Pasti tak ada ledakan dahsyat di semesta. Tak perlu ada 7 hari penciptaan. Tak perlu ada 7 lapis langit, tak ada yang perlu hidup selain di surga. Tak akan pernah ada aku, tak juga kamu, tak ada kita.