Angin bernafas pelan sekali, seolah-olah jangan sampai sunyi itu mendengarnya. Sedang waktu memanjat dinding hitam, terengah-engah, namun hampir mencapai puncaknya. Malam melelehkan tubuhnya yang dingin pada lembab udara, atap-atap seng, dan dahan-dahan pohon akasia.

Kamar ini semacam percakapan-percakapan gaduh dalam hening. Tentang sosok yang tinggal menetap dalam kepala. Seperti seorang imigran gelap yang keras kepala. Membuat rumah-rumah permanen dalam kepala. Mentasbihkan dirinya sebagai pemilik tunggal. Menetap, tak mau, dan tak akan pergi.

Disebutkannya lagi nama itu oleh buku-buku, oleh televisi, oleh cangkir kopi yang kotor, oleh bagian-bagian tubuhku sendiri.

Kupejamkan mata dalam beberapa detik, menarik nafas yang teramat panjang, membiarkan sosok dalam kepala itu memberikan senyum yang paling cemerlang. Lalu kusabdakan sebuah kalimat sapa Selamat Malam kepadamu. Selamat Malam yang pelan-pelan keluar dari mulutku sebagai sebuah kabut keemasan. Bergerak, memanjang, hingga benar-benar habis tak lagi tersisa dalam mulutku.

Selamat Malam itu kemudian mengumpul, menggumpal menjadi seperti bola, satu lengan jaraknya di depan mata. Pelan-pelan kabut keemasan itu menyusut. Dari sebuah bola, menjadi sesuatu yang agak ramping, bersayap, bergerak, kemudian mengepak. Sesuatu yang tak mungkin kau duga sebelumnya. Selamat Malam itu kini menjadi seekor burung hantu. Burung hantu yang kokoh. Paruhnya runcing, mata yang redup tapi tajam, serta bulu abu-abu, dengan totol-totol hitam.

Kurasakan sesaat suasana mendadak hikmat menyaksikan segala. Jam dinding berhenti berdetak, angin berhenti bergerak. Seakan-akan mukjizat baru saja terjadi.

Burung hantu itu menatapku untuk beberapa menit, seperti sedang membaca isyarat yang terbaca dari mataku, memahaminya, sebelum akhirnya ia menuju jendela. Jendela yang seperti telah tersihir. Jendela yang otomatis terbuka saat ia mengepakkan sayap di depannya. Burung hantu itu merobek kutukan-kutukan yang sempat menutupi malam, seperti serangkaian jaring laba-laba. Melewati ratusan kerlip lampu kota yang mengantuk. Bangunan-bangunan rapuh sepanjang kota, dan langit-langit yang penuh asap. Ia tembus pula sekumpulan kabut sombong. Nyanyian malaikat yang menggoda namun tak dihiraukannya, juga hutan-hutan purba tempat dimana hantu-hantu konon mendirikan kerajaannya.

Ketika sayap-sayapnya terasa letih mengepak, ia putuskan untuk berhenti sejenak di sebuah pohon beringin di pinggir danau. Danau yang tenang seperti matamu. Disitu angin layaknya seorang sahabat lama. Di tengahnya, bulan mengambang, tepatnya berenang. Dia pikir dia adalah anak kecil yang baru saja mendapatkan ijin bermain sepuasnya dari ibunya.

Burung hantu itu turun dari atas pohon, lalu memijakkan kakinya pada sebuah batu yang tak terlalu besar di pinggir danau. Meminum airnya, merasakan cipratan surga itu dalam kerongkongannya, sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan. Perjalanan tercepat.  Terbang, kembali ia terbang. Beriring-iringan bersama cahaya. Cahaya yang berasal dari doa-doa yang berlesatan dari langit.

Setelah ribuan kilometer, sampai juga Burung Hantu itu pada sebuah rumah bercat biru langit. Rumahmu. Rumah seluruh keluargamu menghitung waktu. Dia mencari jendela terbesar dari rumahmu, jendela yang bersebelahan dengan ruang dapur itu. Jendela kamar yang hanya memiliki satu daun pintu. Bukalah. Bukalah, karena aku tahu kau belum benar-benar terlelap. Segeralah kau beranjak dari deritamu, merasakan sesuatu dari luar yang begitu kuat menguatkanmu. Kau berjalan sempoyongan menuju jendela.

Ketika kau buka jendela, kau lihat seekor burung hantu berwarna abu-abu itu sudah bertengger di depanmu. Memperhatikan wajahmu lekat-lekat. Ia coba tersenyum, tapi kau tak bisa membedakan mana senyuman, mana gerutuan. Kau mundur satu langkah. Seperti hendak melarikan diri, tapi ketenangan burung hantu itu malah membuatmu bertahan. Bahkan kau maju lagi satu langkah ke depan. Aku sepertinya tak perlu memberitahumu, karena aku curiga kau sudah tahu, bahwa burung hantu itu sebenarnya doa-doa penyembuhmu, doa-doa penyemangat hidupmu, doa-doa yang tercipta dari mulut keikhlasan sejawatmu.

– teruntuk teman terbaikku [ Plasidomifa] –