Di kampungku, hujan ditampung, dijadikan manik-manik berwarna-warni. Para wanita merangkainya menjadi gelang, kalung, dan bermacam perhiasan. Gelang itu dipakaikan kepada anak-anak mereka, agar ketika pergi jauh dari rumah, tak terjadi apa-apa pada mereka. Para petani menaburkan manik-manik itu ke sawahnya, ke kebun pekarangannya. Agar nantinya tanaman mereka menjadi tanaman paling surga dari seluruh dunia. Para pecinta menggunakan manik-manik itu sebagai hadiah untuk kekasihnya. Agar waktu selalu menjerat mereka dalam cinta.

Di kampungku, awan dirajut menjadi kain-kain khas. Para wanita menggunakannya sebagai gaun yang ia pakai kemana saja ia pergi. Para lelaki menggunakannya sebagai baju kebesaran untuk berperang melawan nasib, menyelami lautan takdir. Memancarkan kewibawaan dari tubuhnya. Sementara anak-anak kecil menggunakannya sebagai selimut tebal yang melindungi mereka dari cubitan dingin dan goresan-goresan malam.

Di kampungku, cahaya ditanam dalam setiap halaman. Orang-orang menyiraminya dengan puisi dan kasih sayang. Mereka merawat cahaya itu layaknya mereka merawat anak-anak mereka. Lama-kelamaan cahaya itu akan semakin tumbuh, tinggi, membesar, menjadi pohon-pohon cahaya yang kokoh. Tempat tinggal burung-burung, semut-semut, dan beberapa serangga. Anak-anak kecil setiap sore bermain di bawahnya, beberapa musafir meminjam teduhnya sejenak untuk berlindung dari siang hari. Ketika musim panen telah tiba, pohon itu menjatuhkan sendiri buahnya yang tak habis-habis, seperti aliran sungai. Orang-orang tinggal memungutnya. Ketika malam, kadang beberapa orang memanjat pohon itu hingga ke langit. Mengunjungi kediaman Tuhan. Mengiriminya sekeranjang doa.

Di kampungku, tanah adalah nenek moyang. Rahim tempat keluarnya tumbuhan, hewan dan manusia. Orang-orang menggenggam tanah saat pergi ke negeri lainnya, mereka gunakan tanah itu sebagai peta dan pengingat bahwa masa kecilnya sempat tertahan di sana. Tanah adalah penyembuh rasa sakit, pengada yang tiada. Tanah adalah harapan, awal mula sebelum mimpi tercipta, sekaligus hasil dari kenyataan yang ada.
Pintu kedatangan sekaligus pintu untuk pulang.

 

Di kampungku, kami adalah hujan, kami adalah awan, kami adalah cahaya, kami adalah tanah.

 

Di kampungku, kami adalah alam.