malam tadi hujan seperti sahabat lama yang tak pernah bertemu
dia mendatangiku
mengajakku berbincang
dalam bahasa rindu

 

apakah disekitarmu masih tumbuh rumput-rumput liar
bernama sepi?
yang menghampar luas ke lahan kosong malammu
seperti yang pernah kau tulis dulu
dalam lembar-lembar udara
lalu kau tiupkan ke arahku

 

kita tahu, bahkan sebelum rendezvous itu
bahwa ada ratusan cahaya dari jiwa kita
yang ingin menyatu
lalu melengkung parabola
membentuk refleksi sempurna
bernama bianglala

 

namun kita sadar
bahwa kabut adalah dinding dinding angkuh
yang membelah refleksi cahaya
menjadi berhamburan
menjadi tak bisa diterjemahkan

 

meski langkah kita saling melawan
bukan berarti kita tak bisa bermain peran
masih bisa membohongi kenyataan
lalu diam-diam saling merindukan
diam-diam

 

pada akhirnya kita paham
bahwa rasa itu indah
tanpa melulu bersandingan