Kuambil handphone yang tergeletak di atas kasur. Betapa ingin segera kutelepon dirimu. Mendengar sepoi-sepoi suaramu, yang seperti guguran bunga kamboja di musim semi. Setelah waktu beranak pinak seperti hewan ternak dan jarak yang semakin hari, semakin mirip penduduk di kota. Jauh dan tak mengenal seseorang, lima jengkal dari pintu rumahnya. Hari-hari dengan tubuhnya yang letih. Dan langit kota yang kian pucat. Kucari namamu dalam list phonebook-ku. Nama yang selalu mudah untuk kutemukan, karena berada di urutan teratas di antara yang lainnya. Tentunya kau tak perlu bertanya, mengapa dan bagaimana bisa namamu menjadi urutan yang pertama, meski huruf awal namamu bukanlah huruf “A”.

Ingin kuceritakan padamu kejadian-kejadian yang kualami hari ini. Aku mulai menyukai pekerjaan baruku, aku mulai menyukai orang-orang baru dengan tingkah aneh dan lucu, disini. Mereka bercanda dengan saling mengolok-olok sama lain, dan membuat parodi tentang bos jika bos tak ada. Aku ikut tertawa, karena beginilah cara mereka tertawa. Satu hal yang aku suka adalah, aku bisa membuat kopi sendiri disini, menikmatinya di sebuah tempat rahasia, sambil menyalakan sebatang tembakau. Kemudian aku ingat pada segelas kopi tak terlalu manis yang pernah kau buatkan untukku, saat aku datang ke rumahmu. Di beranda depan rumahmu, menjelang pukul delapan malam dingin mengenakan senyap yang tebal, dua jangkrik sedang membicarakan sebuah rencana dan kita khusyuk mendengarkan mereka. Pada mulanya sepi, lalu aku membuat lelucon nakal tentang bulan yang mengapung di matamu, kau mencubit tanganku manja, kita tertawa terbahak-bahak memecah tatapan tembok rumahmu yang tajam. Saat itu aku yakin ibumu di dalam rumah kesal mendengar berisiknya celoteh kita di luar. Jam sembilan malam aku pulang, segelas kopi tinggal ampas, dan kau menatapku dengan muka yang berat untuk melepaskan. Tapi, aku tak mau dibilang ibumu sebagai lelaki yang suka macam-macam. Sebelum pulang, ingin kucium pipimu sebagai kenang kenangan sampai minggu depan, tetapi kau menolak. Katamu kau malu, “kalau-kalau nanti ada yang melihat, mau ditaruh mana mukaku?”. Kuacak-acak rambutmu, sebelum tiga langkah meninggalkan batas rumahmu. Sebelum kunaiki motor bututku. Sebelum sebuah salam undur diri pada ibumu. Sebelum kau hadiahkan sebuah senyum yang membuat matahari bisa muncul di malam hari.

Di atas laju 40 km/ jam, aku bernyanyi-nyanyi sendirian. Bahagia baru saja diciptakan, menyusul pohon-pohon rindu yang akan tumbuh kemudian. Oiya, minggu depan, setelah gajian aku berencana untuk mengajakmu menonton bioskop. Sebuah film drama komedi baru saja di-release. Hught Grant yang jadi pemeran utamanya, aktor yang selalu kau puja-puja itu. Kau pasti akan suka mendengarnya.

Dalam bioskop yang dingin itu kau paling suka jika kugenggam tanganmu, sambil kuamati wajahmu yang cantik itu dalam gelap, sementara kau tetap memandang adegan-demi adegan film, pura-pura tak melihatku. Setelah selesai menonton bioskop, kau paling suka jika diajak makan ke sebuah tempat di sebelah gedung bioskop itu. Kau pernah bilang bahwa disitu adalah ada makanan enak nomor tiga di dunia setelah masakan ibumu, dan ciumanku. Kau mulai pandai menggombal. Sambil mengunyah, kau tak akan berhenti mengomentari film tadi, selebihnya hanya akan memuji Hugh Grant, biar aku iri. Ah, tak mempan.

Beberapa puisi telah kuciptakan untukmu. Sebenarnya ingin kukirimkan untukmu lewat email, tapi aku punya rencana lain. Membacakannya langsung di depanmu ketika nanti aku menemuimu, sepertinya adalah ide yang lebih menarik. Setelah namamu kutemukan, lalu kutekan tombol “panggil”, sebuah nada sambung terdengar sampai habis, berulang lagi sampai tiga kali, namun tak juga ada jawaban. Kuulangi lagi, namun tetap tak ada jawaban. Sekarang untuk yang ketiga kalinya, dan jika telepon yang ketiga ini tak diangkat, aku tak akan menelepon lagi. Mungkin kau memang sedang sibuk. Aku memakluminya. Setelah nada sambung berakhir, akhirnya telepon kau angkat juga. “Hallo..”, tiba-tiba sabungan terputus, ternyata pulsaku habis. Sial