Tengah malam ada gelisah yang tiba-tiba saja bertamu.
Mengetuk dari dalam dada dengan buru-buru.
Entah ingin keluar menjadi kata atau sekedar mencari perhatian.
Setidaknya berhasil membuatku terjaga dari terpejamnya mata.
Sadarkan aku tentang arti dari kesendirian.
“Tak bisa lagi kehilangan.”

 

Aku berjalan gontai ke beranda.
Duduk di kursi yang hanya satu.
Karna percuma kusediakan pasangannya.
Tak akan ada yang duduk di sana.
Selain sepi yang suka menggodaku memikirkanmu.
“Ternyata pagi belum juga pulang,” kataku pada udara.
“Sebentar lagi juga dia datang,” jawab bulan tiba-tiba.

 

Aku tertidur di kursi kayu beranda rumahku.
Bersama sebuah buku yang tadi kubaca.
Kini dia asik membaca garis di keningku.
Seolah dari sana dia bisa membaca pikiranku.
Tapi sepertinya tak akan sulit untukmu membacanya.
Karna di dalam sana hanya ada kamu.

 

Aku merasakan pagi telah pulang ke rumahku.
Aku merasakannya berjinjit malu-malu masuk ke halamanku.
Lalu diam-diam ke beranda.
Lalu menciumku dengan hangatnya.
Tapi aku tak juga bisa membuka mata.
Ada hitam yang kucandu diam-diam.
Diam-diam kulukis wajahmu di dalam sana.
Dengan bebasnya kurekam adegan demi adegan.
Hingga kita jatuh cinta di dalam hitam.
Diam-diam.
Serupa pagi yang tak tega membangunkanku.