Kutumpuk kata demi kata
Jadikannya dinding yang hening
Setinggi aku
Setinggi kamu
Setinggi kita sebatas mata

 

Aku bosan
Dengan hitam di tengah putih yang hampa
Di sana aku memang bisa melihat aku
Namun hanya diam beradu bungkam

 

Katamu diam adalah emas
Bukan alasan untuk cemas
Sebabnya aku jadi terbiasa
Memendam suara
Memendam rasa

 

“Mati saja kau!”
Kataku pada hatiku
Kutimpuk ia dengan kata
Hingga berdarah kepalanya
Hingga lupa ingatan dia
Hingga melupakanmu dia