Banyak orang berkata, termasuk simbahku “hidup itu sawang sinawang”, masing-masing ngiler dengan yang dimiliki orang lain. Lupa bahwa dengan hukum sawang sinawang itu berarti tiap hal yang dimiliki memiliki potensi untuk membuat orang lain ngiler. Terlalu sibuk menaksir harga yang dipunyai orang lain sampai lupa menghargai yang telah didapat. Suatu ketika aku bertanya pada seorang kawan yang sugih, memiliki beberapa usaha, punya beberapa mobil, “Gimana rasanya hidup sampeyan dengan semua harta yang sampeyan punya? Seneng? Sangat seneng? Atau sangat seneng sekali?”. Tentu dengan menilik kondisiku yang cuma mengandalkan bayaran dari pabrik, kemana-mana masih nyemplak si kuda hitam bermesin besi. Aku mengharap jawaban bahwa dia pasti sangat senang sekali dengan kehidupannya. Tapi ternyata tidak begitu jawabannya, dia bilang level kesenangannya biasa saja.

Kata kawanku, ” jawaban sangat senang sekali mungkin baru akan keluar saat aku yang belum punya beberapa mobil ini ditanya, “Bagaimana seandainya sampeyan memiliki beberapa rumah dan mobil, serta 20 pom bensin?”. Kenapa? ” bukan karena rumah, mobil, dan pom bensinnya, tapi karena semua itu masih sebatas aku  memandang, belum dalam jangkauan” .

Ada kata-kata yang mungkin terdengar klise:

aku tidak selalu mendapatkan apa yang aku sukai, karena itu aku selalu berusaha menyukai apa yang aku dapatkan.

Rasa adalah pilihan. Tergantung bagaimana sampeyan mengatur hati dan kepala. ” Bersyukur adalah urusa sampeyan denganPencipta “, jangan lihat kiri kanan, bandingkan diri sampeyan sendiri.

Konon suatu saat ada seorang petani miskin mengeluh kepada Mbah Kyai, “Mbah, saya ini kok sengsara tenan ya? sudah rumah sempit, anak banyak, mertua numpang. Sumpek bener saya di rumah!”

Kata Mbah Kyai, “Besok pergilah ke pasar, belilah ayam 10 ekor, peliharalah.”

Besoknya si petani datang lagi, “Waduh Mbah, makin sumpek saya. Sudah rumah penuh masih ketambahan ayam!”

Kata Mbah Kyai, “Sampeyan besok ke pasar, beli kambing 2 ekor, peliharalah.”

Beberapa hari kemudian si petani datang lagi, dan disuruh membeli serta memelihara seekor sapi. “Bagaimana kondisi sampeyan? Sudah membaik?” Tanya Mbah Kyai beberapa minggu kemudian.

Si petani yang makin kurus karena stress itu menjawab, “Membaik gimana Mbah?? Rumah saya sudah seperti kebun binatang! Belum lagi kepikiran utang buat beli sapi dan kambingnya!”

Mbah Kyai tersenyum, “Besok sampeyan pergilah ke pasar, jual sapi sampeyan.”

Beberapa waktu berlalu, Mbah Kyai ketemu si petani, wajahnya tampak agak lebih berseri, “Sekarang agak lumayan Mbah, rumahnya jadi lebih longgar.”

“Kalau begitu besok sampeyan pergilah ke pasar, jual kambing sampeyan.” Kata Mbah Kyai.

Selang berapa minggu kemudian setelah ayamnya dijual, Mbah Kyai bertemu dengan si petani, wajahnya segar. “Saran sampeyan memang manjur Mbah, rumah saya sekarang jadi nyaman!”

 

Kadang menerima apa yang ada membuat pilihan rasa menjadi lebih mudah.