Sekilas memang tak ada yang istimewa dari sandal jepit yang dulu aku beli dengan harga tak sampe 10 ribu rupiah itu, cuma sandal murahan warna biru dengan tulisan swallow, yang membuat kesan murahannya semakin sangit tercium. Tak seperti saudaranya sesama sandal jepit yang aku lihat di sebuah Mall waktu aku ketemu sama teman-teman, sama jepitnya tapi beda kasta, 500 ribu harganya, klo tak salah tulisannya Crocs. *harap maapkan klo salah, aku terlalu terpana dengan harganya*.

“Lha trus apa keistimewaan tersembunyi yang ada di sandal jepitmu itu yud?” tanya seorang teman. “Justru itu istimewanya, karena memang tak ada keistimewaannya. Sandal jepitku itu begitu sandal jepit banget.”

Sandal jepitku memang memiliki nuansa yang sangat sandal jepit. Dia begitu ampuh mengundang lirikan menyelidik dari satpam-satpam mall yang kebanyakan pengunjungnya modis, dia juga penuh dengan hawa penolak sales, buktinya tak sekalipun aku dihentikan oleh sales-sales yang banyak berkeliaran di mall. Jangankan mbak-mbak seksieh, mas-mas yang aku pikir level kendesoannya cuma 10-11 dibanding aku pun tak ada yang berminat.

Mungkin karena itu waktu ketemu seorang teman lagi kemarin aku dengan sedikit penyesalan minta maap sama dia, “Maap yes, aku cuma pake sendal jepit, maklum wong ndeso. Lebih baik aku mengaku ndeso terlebih dahulu daripada dia berkata dalam hati, “Ini orang kok ndeso banget!”.

Sandal jepitku juga tak punya nuansa kepura-puraan seperti yang kadang digunakan oleh orang-orang kaya waktu datang ke kantor pajak. Pake kaos lusuh, celana kumal, sandal jepit, dengan naik motor butut, padahal di rumah mobilnya anyar kinyis-kinyis dan semua anaknya kuliah di luar negeri. Sandal jepitku begitu bersahaja, lugas, dan apa adanya. Nyaman luar biasa. Hingga pernah suatu saat aku mau kondangan, aku sudah nyiapkan sandal kulitku satu-satunya, sandal paling bagus yang aku punya. Lha kok pas turun dari angkot menjelang tempat kondangan aku baru nyadar, yang aku pake sendal jepit!. Maklum waktu itu gerimis.

Ajining raga dumuning ing busana kata bapakku, orang akan menilai kita berdasarkan apa yang kita pake. Karena itu aku tak menyalahkan para satpam, para sales yang anderestimet sama diriku gara-gara sandal jepit. Di jaman yang serba materi ini sandal jepit cenderung identik dengan tak punya duit, yang tak menarik buat para sales tentunya, buat para satpam pun yang punya duit mungkin dipandang berpotensi kriminal, sebagus-bagusnya paling cuma ngrusuhi karena tak ada yang bisa dibelanjakan.

“Memangnya kamu punya duit yud?” tanya temenku penuh selidik. “tak punya.” kataku. “Ya sudah, tak usah protes orang-orang pada anderestimet!” Seru salah satu teman dengan tawa bernada pelecehan. Mungkin aku memang harus belajar jadi orang kaya, dan konon untuk bisa jadi orang kaya. Pertama-tama aku harus berpura-pura jadi orang kaya. Jadi darimana aku harus memulai, mengganti sandal jepit legendaris itu dengan Crocs mungkin?.