Rindunya lagi kepengen di coret-coret. *pasang ikat kepala*

Rindu ini cuma aku yang mengerti. Mungkin ini tidak nyata, karena kamu tak mungkin kumiliki.

Rindu ini seperti penantian yang tak berujung. Pundung.

Rindu ini tak bertepi. Meskipun kamu selalu hadir dalam angan dan mimpi.

Rindu ini adalah sebuah realita. Dari sebuah cinta yang tak nyata.

Rindu kilatan tatapmu. Tatapan yang bercerita tentang keangkuhanmu.

Rindunya sering hadir disaat gundah. Aku ingin kedamaian, bukan pilu. DUAAAAAAARRR!!

Rindunya musnah. Seketika kau menyebut namanya.

Rindu ini cuma menyebut namamu. Kuteriakan kuat-kuat, bersuara sampai habis, sampai tenggorokan mengering dan berkerak.

Rindu ini merangkul erat bayanganmu. Lagi-lagi karena kau bukan milikku.

Rindu ini rela menggugurkan keringat dan air mata demi melihatmu tersenyum bahagia.

Rindu ini abadi untukmu. Walau tak bisa menjagamu, namamu sudah terukir indah di altar hatiku…eeeeaaa!!!

Rinduku selalu bersahabat dengan penantian. Di situlah keindahan rinduku.

Malam ini rinduku diadu. Tak satu kata pun beradu padu pada sebuah kotak merah jambu yang menjelma seperti kelambu.

Cintaku, aku rindu. Lalu, pada siapa aku harus mengadu?

Namamu terus bergema. Entah mengapa. Seperti menyapa. Tapi dimana? inikah disebut rindu?

Rindu ini punya seribu tanya. “Sedang apa kamu disana?”

Rindu ini bau kecut. Seperti aroma kancut.

Rindu ini dungu. Sedikit belagu, dan agak berbulu.

Rindu ini masih bernapas. Tolong  jangan di sumpel dengan kapas.

Rindunya tulus. Seperti hatinya. Begitu juga badannya, mulus.

Rindu ini sadar banyak yang mengharapkanmu. Berharap kamu untuk aku selamanya. #sekarepmu

Rindu ini punya pengakuan. Sangat menginginkanmu. Sangat sadar sedang berada diantara kalian.

Rindu ini sadar bahwa ia tidak akan bisa memilikimu seumur hidupnya. Maka dari itu ia tak pernah mencari tahu apa yang engkau inginkan.

Mereka boleh ikut menangis ataupun bahagia. Tapi rindu kita bukan urusan mereka.