Rindu ini ingin bercerita. Semoga waktu kalian tidak tersita. Baca saja, jangan di cela. Karena akulah sang pemula.

Rindu ini dangkal. Ketika tahu tak ada ruang di hatimu untuk aku tinggal. Walau cuma sejengkal. Itu semua mustahal.

Rindu ini menggelitik. Seperti habis di suntik. Hey cantik, kemarilah aku mau berbisik.

Rindu ini membentuk aksara yang tidak karuan. Aku heran.

Rindu ini hanya setumpuk perasaan yang tak berubah dan tak mungkin salah.

Rindu ini semakin mengeras. Tidak seperti pankreas, dia tidak menguras, ataupun merampas.

Rindu ini tak berujung. Kamu ga perlu bingung ataupun linglung.

Rindu ini tertatih. Bertambah letih ketika terputar kerispatih. Meringkih. Tiba2 jadi putih.

Rinduku membentuk benci. Sudah tahu bakal terjadi, malah di jalani. Dasar panci !!

Rindu ini butuh tandu. Tak kuasa aku menunggu satu windu. Untuk bertemu kamu, candu!!

Rinduku penyakitan. Siapa yang tahan oleh godaan. Klo kamu yang baris paling depan.

Rindu ini membuatku bosan jadi orang cakep. Rindu ini emang kode minta di bekep.

Rindu ini tidak adil. Ingin rasanya menelan bedil. Mungkin rasanya sama kayak candil? Ah dasar kerdil.

Rindu ini semu. Terlihat tak bermutu. Ketika tak ada kamu.

Rindu ini mulai mendengkur. Seminggu tidak tidur. Kulit jadi lentur. Bicara pun mulai ngelantur. Ngeblurr!!

Rinduku mati suri. Entah siapa yang terakhir mencuri. Wanita itu telah lari. Mungkin ke planet merkuri.

Rindu ini berbahaya.

Bila rindu tak terbendung, boleh aku datang minggu depan?

Rindu ini tertib berbaris. Meskipun teriris dan terlihat miris, aku tak menggubris. Aku berjalan sesuai garis.

Rindu ini sederhana. Sedikit tak biasa. Tapi membahana di angkasa.

Rindu ini cukup tangguh. Walaupun sedikit gaduh, dia tak suka mengeluh. Apa kamu sudah siap mengunduh?.

Rindu ini sedikit rancu. Saat kamu memakai gincu, atau saat sedang tak bergincu.

Rindu itu semacam barbel. Memberatkan hati. Membuat kencang otot2 percitraan.

Maaf rindu ini menyita waktuku. Otak ini di penuhi angan tentangmu. Tolong kasih ruang buatku.

Rindu tidak butuh pemandu. Seperti si buta dari goa hantu. Matanya tak melihat, tapi dia mampu meninju. Hey candu, aku rindu.

Rinduku tak berujung. Tak jelas kapan lagi kamu akan berkunjung. Menggantung? Ah tidak.. Semoga rindu ini cepat rampung.

Rindu ini menjagaku. Menjaga ‘kita’. Ketika sedang rindu, aku enggan memanjakan mata.

Rindu ini berjalan sesuai kemampuan. Akan tiba suatu masa dimana rindu vs cobaan. Semoga kita bisa bertahan.

Rindu selalu bersahabat dengan waktu. Maka dari itu aku berniat menghancurkan bulan dan matahari. Si penanda waktu.

KOTAK PENYIMPANAN RINDU. Jaga baik-baik. Jika tidak sanggup, kembalikan secepatnya, sebelum kamu tahu apa isinya.

Rindu ini egois. Dia hanya memikirkan dirinya sendiri.

Rindu ini melemah. Ketika aku lemah. Dan ada yang memanah. Aaahh.. Tumpah ruah..

Rindu itu sesuatu yang harus dipertahankan atau dihilangkan?

Aku bukan tukang ngeluh. Hanya sekedar ingin kau tahu. Rinduku menyeluruh.

Rindu itu hanya sebuah kata yang mungkin secara tidak sengaja membuat aku membentuk sebuah kata-kata.

Seketika saja rindu bisa membuatku tak bisa berkata-kata.

Rindu ini serupa ayam bakar. Nikmat ketika baru saja di bakar. Kurang nikmat ketika sudah dingin.

Rindu ini bergemuruh. Teringat tentang kamu, penuh. Menyeluruh.

Rindu ini meninggalkan nama. Raut muka. Semua yang kamu punya.

Rindu ini membuatku resah. Menahan gundah. Melihatmu di renggut, lepas…sudah.

Rindu membawaku pada waktu yang semakin sempit. Persaingan makin sengit. Merobek langit.

Rindu ini berirama syahdu. Menemaniku mengisi waktu. Kala sepi di dalam kalbu.

Rindu adalah bayangan bagi pecinta yang bertemu dalam kenangan.

Rindu ini semakin bawel. Tersimpul rapih dalam kemasan towel.

Rindu ini mulai bertamu. Pada siapa aku mengadu?

Rindu ini tentang hasrat untuk bertemu. Bukan sekedar bercumbu atau melihatmu.

Rinduku ngajak ribut. Sekali sundut langsung semaput.

Rindu ini berbuah. Awalnya hanya menanam pohon cintah. Belakangan ini mulai sengsarah.

Rindu ini semakin kuat. Apa yang bisa diperbuat?

Kangendong..kemana-manaa.. kangendong..kemana-manaaaa

Rindu ini bau. Bau kamu.

Rindu ini pendiam. Tak suka menyelam. Takut tenggelam. Cuma bisa berharap, kemudian karam.

Rindu ini khilaf. Menyebut namamu ketika bersamanya. Ya aku khilaf

Rindu ini berkelas. Tak mau terlihat melas. Ataupun berharap dibalas. Memang aku berdarah pemalas.

Rindu ini berkeringat. Cukup suli baginya mengingat. Semua hal yang bikin penat.

Rindu ini cuma mimpi. Seriusli.

Rindu ini mengeluarkan air mata. Mungkin lebih bermakna daripada tawa yang penuh dusta.

Rindu ini hanya mimpi. Hanya untuk melepas sepi. kemudian menepi.

Rindu ini milik kamu. Mungkin masih terlihat semu.  Semoga kamu tidak jemu.

Rindu ini bikin remuk. Cerita nyamuk.

Rindu ini terbata-bata. Kalo disusun bisa membangun rumah kita.

Rindu ini tak tahu malu. Dia tak sadar kalau sedang jadi benalu.

Rindu ini tak tahu waktu. Sebentar-sebentar udara dibuatnya menjadi batu.

Rindu ini malu bertanya. Sesat di jalan.

Rindu ini nyaman di dunia khayalan. Bebas berjalan. Tanpa cacian.

Rindu ini bersembunyi. Berlari menuju tempat sunyi.

Rindu ini bergemuruh. Ketika ingat dikau, penuh…menyeluruh.

Rindu ini menggebu-gebu. Saat kamu bilang membutuhkanku. Ah, aku malu.

Rindu ini menyadarkanku. Dalamnya rindu dapat membuat bisu.

MERINDUMU. Berwujud semu. Takkan ku sesali. Karena aku yang memilih (merindukan) mu.

Rindu ini punya cerita. Walau tidak nyata, setidaknya ini realita.

Rindu ini tak dapat berucap padamu. Bahkan walau telah menyentuhmu.

Rindu ini butuh kepastian. Dia tidak ingin mati dalam penantian.

Rindu ini duduk di antara corong dan pengeras suara mesjid. Menyapamu melalui gelombang yang mengawang.

Rindu ini mulai merindu saat2 pertama kita bertemu.

Rindu ini tertahan dalam kabut yang kelam. Sangat kejam. Senja pun sempat muram.

Rindu ini memecahkan keramaian. Membuat aku kesepian.

Rindu ini tak aman. Dia tidak nyaman.

Rindu itu seperti kentut. Di tahan sakit. Di buang di tempat umum takut bau.

Rindu ini dimanaaaa dimanaaaa dimanaaaa.

Rindu ini punya tanda pengenal. Coba kamu lihat, apakah masih tertulis namamu disana?

Rindu ini boleh di cek di toko sebelah. Klo ada yang lebih wah, silahkan pindah.

Rinduku bisa mengeras dan melemah. Tak bisa diatur oleh akal. Cukup dijamah.

Rindu ini tidak genic. Kamu jangan panic. Dia suka muncul dengan sesuatu unik.

Rindu ini tak beraksara. Mungkin punya nyawa. “hahahaha” seketika dia tertawa. jumawa.

Rindu ini punya IRAMA. Mungkin dia alumni SONETTA. RHOMAn-RHOMAn nya sih..

Rindu ini tak bisa bercermin. Dia hanya bisa mengomentari kerinduan orang lain.

Rindu ini makin lama makin terlalu. Pedes Manis. (Pedes ketika di rasa, Manis ketika di ingat. -red).

Rindu ini bikin HATCHI. Lama-lama aku benchi.

Rindu ini bisa saja mati suri. Ketika aku tersadar bahwa kau ternyata tak terganti.

Rindu ini mengaburkan Matahari. Membuatku terjaga di malam hari. Kemudiaaaan……. *isisendiri

Rindu ini gak pake acar. Kata siapa semua ini tentang pacar?

Rindu ini karetnya dua. Siapa bilang aku mendua.

Rindu ini tidak bersalah. Waktu yang tak mau mengalah. Gerah…gerah…gerah… Ah, aku lelah.

Rindu ini selalu aku jadikan sebuah cerita sebelum aku tertidur.

Kata2ku tidak berkonsep. Maaf2 jika memalukan. Saya undur diri yaa. *lowbat

Selamat tidur para perindu.