Harap bacaan ini dimengerti dan dibayangkan baik-baik, jangan disalah presepsikan. ambil positifnya saja, saya menulis ini berdasarkan apa yang ada di otak saya dan persepsi saya saja.

 

  1. Masih ingat waktu kalian semua membuka mata untuk pertama kalinya? menghembuskan nafas untuk pertama kalinya? menendang perut ibu kalian untuk pertama kalinya? kalau tanya saya, saya sih tak ingat. saya ingat awal hidup saya dimulai saat saya sedang makan di ruang tengah rumah nenek, sendirian. ( kira kira umur saya 3 tahun ). kalau kalian?!
  2. Dulu waktu saya kecil dunia bagaikan tempat yang menjanjikan, tanah yang subur, lingkungan yang paling berharga, tempat dimana manusia hidup dengan setia, sekarang?  ada apa dengan sekarang? apakah itu semua menghilang? atau karena sudah saatnya saya beranjak dewasa sehingga saya bisa berfikir dan tahu bahwa dunia ini kejam? dunia ini memang kejam. sepertinya sudah tidak ada kata ‘mudah’ lagi di buku kamus bahasa Indonesia, sudah tidak ada kata ‘easy’ lagi di buku kamus bahasa Inggris. Semakin kita dewasa semakin kita mengerti bahwa menjalankan hidup ini tidak mudah. Kadang kita takut dengan kata ‘MASA DEPAN’, waktu yang menjanjikan kita untuk sukses atau gagal tapi tak menjamin itu bakal didapat atau tidak. gambling sekali.
  3. Tinggal di daratan yang sebenarnya tidak datar ini bukan tanpa tujuan, kita bagaikan pasien dari seorang dokter yang disuruh duduk bersabar di ruang tunggu dengan tidak diberikan nomor urut siapa yang akan dipanggil terlebih dahulu. Dan dokter itu bukan benda hidup yang nyata yang bisa kita lihat, Ia bagaikan kamera cctv yang mengetahui dan mencatat semua kegiatan kita. Kita hanya disuruh untuk menunggu dan melakukan perbuatan baik dan tidak macam-macam di depan suster jahat dan suster baik. hhmmm jadiiii. urutan berapakah saya? kamu? kita? kalian? tidak ada yang tahu.
  4. Tragedi-tragedi di dunia sudah kayak maya, makin aneh saja. Satu contoh saat cerita seseorang yang kembali kembali ke masa lalu dengan mesin waktunya dari tahun 2036 untuk mengambil komputer canggih di tahun 1995. Lalu ia sempat mampir ke tahun 2000-an untuk menjelaskannya. Orang orang percaya karena ia punya bukti-bukti yang kuat. Terlihat aneh memang, tapi bagaimana kalau ini memang benar? coba berfikir panjang, hidup ini semakin abstrak dengan kejadian-kejadian tersebut, apakah dunia ini memang tidak ada ujungnya? apakah surga dan neraka itu ada? Atau bahkan memang tuhan itu tidak ada? masih ingat sebelum kita dilahirkan? kita tak berada dimana-mana, tiba-tiba hidup tanpa alasan. Apakah selanjutnya akan seperti itu juga saat kita mati? kita tidak tahu dan tidak pernah ada yang tahu.
Untuk itu saya tetap berpegang teguh pada agama yang saya anut. Berusaha menjadi penganut yang baik, kasarnya ‘CARI AMAN’. Kita hidup disini bukan bertujuan untuk masuk surga atau takut kejeblos di neraka, tapi hanya untuk beribadah total dan ikhlas kepada-Nya. Jadi, percayailah keyakinan yang sudah kita pegang. urusan hidup mati bukan kita yang menjadwalkan dan mengurusnya. Dan ingat, MASALAH AGAMA TIDAK BISA DILOGIKAN.
-terima kasih-