INDONESIA ( versi saya ) itu sangat rumit. Sulit menemukan arti ‘merdeka’ sesungguhnya, sulit diatur, dan sulit dipandang. Begini, saya akan memberi sedikit gambaran dan cerita tentang Indonesia, ala saya.

 

Setelah merdeka tepatnya tanggal 17 Agustus 1945, rakyat Indonesia sebenarnya belum ‘merdeka’. Jika kalian pernah mendengar kalimat mutiara yang berbunyi “sukses itu bukan hasil, tapi proses”, itulah yang dialami kita rakyat Indonesia. Kita masih harus membangun kembali negeri ini dari 0, pada saat itu. Dan ketika semua rakyat Indonesia sedang menjalaninya, mereka salah ambil jalan. Alasan? mungkin waktu itu kualitas dari mayoritas masyarakat masih belum bisa berdiri sendiri, goyah. Dan masuklah mereka ke ‘labirin’ yang sangat amat rumit. Semua raykat Indonesia berada didalamnya, kebingungan. Tentu saja mereka tertekan, namun tekanan itu justru memunculkan bermacam-macam ide. Dari ide yang bisa membuat mereka keluar bersama-sama dari labirin tersebut ( walau hanya sedikit ), ide yang hanya diperuntukan personal, sampai ide yang buruk untuk menjalani hidup didalamnya.

 

Beberapa orang berhasil, tetapi banyak yang gagal. Anehnya, mereka yang berhasil tidak membantu yang gagal. Justru mereka memberhasilkan diri lagi untuk hidup di dalam labirin tersebut, entah apapun itu caranya. Jeniuskah? Karena tekanan tersebut, orang-orang yang berhasil justru lebih memilih hidup di labirin buruk ( kertepurukan ), bukan bersatu untuk bersama-sama keluar dengan jati diri yang sama dan memasuki labirin yang lebih bagus ( maju ).

 

Labirin ini mempunyai jendela yang sangat besar, agar mereka bisa melihat dan mempelajari dunia luar. Bagaikan orang purba, semua yang mereka lihat secara instan terekam di otak. Hampir setiap hari mereka terus berdiri di depan jendela tersebut, dengan mata yang berbinar terus memandang. Sehingga mereka hampir lupa semua dinding dinding asli labirin. Satu-persatu dari mereka mempelajari, memperagakan, sampai meniru semua hal baik dan buruk yang terlihat di dunia luar. Beberapa orang ada yang hanya memperagakan dan meniru hal yang baik saja, namun beberapa orang juga salah menilai dan mempelajari sehingga ketika diperagakan, itu salah dan tidak cocok untuk dilakukan di labirin tersebut. Dibelakang itu semua, ada mereka yang sama sekali tidak mau melihat dunia luar. Mereka hanya melihat karena ketidaksengajaan saja. Mereka ini yang sangat cinta dengan dinding-dinding labirin tersebut, tidak mau tergantikan. Namun rasa cinta itu justru menutup hati dan matanya. Kontroversi pun muncul di setiap sudut labirin.

 

Di labirin ini, terdapat juga ruangan-ruangan suci untuk mereka yang ingin tenang, damai, dan sehat. Kenapa saya bilang ‘untuk mereka’? Karena di labirin ini, setiap orang bebas. Tidak terikat ‘keharusan’ yang sangat mendalam. Begitu juga yang ingin masuk, mereka bebas memilih ruangan yang mereka yakini itu benar. Ruangan-ruangan ini hanya sebesar 3×2 meter, jadi semua orang harus antri untuk masuk kedalamnya. Setiap orang hanya diberi waktu sekita 10 menit untuk merasakan indahnya ruangan-ruangan tersebut. Setiap hari orang berdatangan. Semua terlihat capek ketika mengantri, tetapi setelah mereka keluar dari ruangan-ruangan tersebut, mereka ‘cerah’. Bagaikan bunga matahari yang baru saja mekar. Hari berganti hari, ruangan no.1 ini makin panjang antriannya. Tidak sepanjang antrian ruangan-ruangan lain. Gosip beredar bahwa jika setelah masuk ruangan no. 1, mereka akan merasakan hal terindah yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Banyak orang tertarik dengan gosip tersebut, tapi tetap masih ada yang mengantri di ruangan-ruangan lainnya. Disuatu ketika, di antrian ruangan no.1, sekelompok orang kesal melihat antrian ruangan lain. Karena mereka bebas dari antrian panjang. Jika 1 hari mereka harus mengantri selama 5 jam untuk masuk ke ruangan no.1, di ruangan lain, hanya butuh 5 menit untuk masuk. Timbulah tekanan yang menyesatkan, sekelompok orang itu menyerobot dan menghancurkan antrian panjang tersebut dengan kekerasan. Mereka masuk dengan cara memaksa. Tak hanya itu, mereka juga menghancurkan ruangan-ruangan lain. Mereka merasa hanya ruangan no.1 lah yang paling benar, tidak ada yang lain. Sungguh kejam sekelompok orang ini.

 

Semakin kacau labirin ini, kontroversi bermunculan terus-menerus. Kepercayaan satu sama lain mulai pudar, kepercayaan untuk bisa bebas dan melaju ke labirin yang lebih bagus pun hilang. Dibalik kekacauan itu semua, labirin ini mempunyai kelompok yang cerdas. Mereka tidak pernah berada di tengah labirin. Sejak awal masuk, mereka hanya berdiri di dekat pintu dan jendela besar tersebut. Mereka inilah yang membuat tamu yang datang ke labirin mendapatkan kesan ‘waw, labirin ini bagus ya!’. Sayangnya, jika dibandingkan dengan orang-orang yang berada di tengah labirin, kelompok cerdas ini hanya sedikit, jauh perbandingannya. Minoritas cerdas yang berusaha untuk memperbaiki semua permasalahan di dalam labirin. Dan orang-orang yang berada di tengah labirin tidak pernah tau ada kelompok cerdas tersebut, beberapa ada yang tau, tapi tidak perduli.

 

Ya, itulah sedikit cerita saya tentang Indonesia kita. Sebenarnya masih banyak yang bisa saya ceritakan tentang permasalahan-permasalahan di dalam labirin tersebut. Namun, terlalu panjang, terlalu lama, dan terlalu menyita waktu. Tidak perlu dituliskan kembali, harus langsung diperbaiki.

 

Maksud saya menulis ini tentu agar kalian bisa menyadari titik permasalahannya. sadarkah kalian? cobalah baca kembali setiap paragrafnya, kalian sengaja saya bawa ke setiap keadaan yang mudah diresapi agar kalian sadar, bahwa permasalah negeri kita ini terlalu sibuk mengurusi ( kesalahan ) diri sendiri, terlalu sibuk ‘berwacana’ dan ‘bangga’ di labirin. Adakah mereka orang-orang di labirin tersebut ( berani ) keluar dan berusaha bersaing di setiap kesempatan melawan labirin lain? tidak, mereka justru asik sendiri. Tidak perduli bagus atau tidak labirin tersebut. Tidak perduli membaik atau tidak labirin tersebut. Mereka hanya ‘sukses’ di dalam labirin tanpa membawa hasil keluarnya. Yang harus kita lakukan adalah tunjukkan kekuatan positif dari negeri ini. Karena kita tidak bisa memaksa seseorang untuk melakukan seperti apa yang kita lakukan, maka dari itu, mulailah dari diri kita sendiri untuk Indonesia menjadi lebih baik.