Kekasihku aku ingin cerita tentang kita. Sebuah rahasia yang kusimpan dalam-dalam, tentang kita. Dulu pernah bermimpi. Dulu pernah tergila-gila. Dulu pernah bercinta. Senyummu, senyumku. Dukamu, dukaku. Resahmu, resahku.

Tak ada yang abadi di dunia ini. Kita hanya orang-orang yang terbuai mimpi. Hingga suatu ketika terjaga dengan air mata di pipi. Tak ada yang salah kekasihku. Kita hanya orang-orang yang dibekali sayap, tapi tidak terlatih untuk terbang. Pincang.

Tapi jangan simpan sayapmu. Kelak nanti kau kan temukan orang yang bisa mengajarimu terbang sempurna. Melayang, bahagia. Bukan aku. Jadi jangan tunggu aku. Terbang tinggilah bersamanya. Tenanglah, aku juga pasti terbang. Tapi bukan sekarang. Malaikat masih sedang memperbaiki sayapku.

Bila nanti kita bertemu, aku usahakan tidak menangis. Sekelumit kisah ini adalah cara Tuhan mendewasakan aku, kamu. Bila nanti kau tua, katakan pada anak cucumu. Cinta sejati itu ada. Hanya saja, ada orang-orang seperti aku yang akan mendewasakanmu terlebih dahulu.

Kalaupun aku menangis, jangan hiraukan aku. Seperti kataku tadi: malaikat sedang memperbaiki sayapku. Kadang-kadang aku tak tahan sakitnya.

Maka dengarlah rahasia agung yang kusimpan untukmu:

aku mencintaimu kekasihku, meski kita tidak diciptakan untuk bersatu!

 

dari secarik kertas putih lusuh berhias goresan carbon pensil di 26 september 2004 [ 23:37 ]