Aku mengenal dua macam hujan. Yang jatuh dari langit dan yang jatuh dari pelupuk mata.

Hujan yang jatuh dari langit, selalu menumbuhkan rasa sakit. Hati seperti terjepit, dengan rindu yang berderit-derit. Hujan yang jatuh dari pelupuk mata, kadang tercurah tanpa kata-kata. Kadang terselip diantara bibir yang terbata, gigilnya merasuk hingga ke jiwa.

Yang pertama sesekali mengundang yang kedua. Yang kedua kadang-kadang bersembunyi dibelakang yang pertama. Dua-duanya datang dengan haru. Dua-duanya aku tak suka.

Kamu tahu, akhir-akhir ini hujan yang pertama sering sekali mengunjungiku. Bisa kurasakan dingin di atap, jendela, dan pintu-pintu. Sesekali kuresapi aroma tanah yang basah. Di dalam sini ada rindu yang ikut berdarah. Untuk seseorang disana, seseorang yang memaksa masuk di kepala.

Kamu belum mengerti juga, kenapa aku tidak suka hujan? Baiklah kulanjutkan.

Seperti tak mau kalah, hujan yang kedua pun ikut-ikutan mengunjungiku. Sungguh ia tamu yang tidak sopan. Kuusir berkali-kali, tak mau juga ia pergi. Bisa kurasakan rapuh di kelopak mata, lelah. Kalau tak segera kuseka, tak tahu apa jadinya. Dan aku mengutuki diri sendiri, untuk kelemahan ini.

Kamu sekarang mengerti kan, kenapa aku tidak suka hujan?

Hujan yang baik, kumohon berhenti. Bukankah sudah kukatakan aku sedang jatuh cinta. Bagaimana bisa aku bercahaya jika kamu selalu ada. Beri aku sedikit ruang. Untuknya, untuk sesuatu yang kusebut asmara. Kalau pun nanti aku dan dia tak menemukan titik temu, aku janji, kau bebas memelukku selama yang kau mau.

Tapi untuk saat ini, biarkan aku berjodoh dengan matahari…