Masa lalu memanggilku. Kamar berwarna abu ini adalah kerajaanku satu-satunya. Hei koin perak, Mana sisi dirimu yang paling jujur?

 

Lagi-lagi saya kini semakin tahu mengapa wajah Soekarno-Hatta begitu merah di uang 100ribuan. Karena mereka tahu kepada siapa harus marah. Saya jadi teringat sebuah tulisan milik Leviathan ” Saya sangat siap untuk terjun berperang dalam pertempuran yang tak akan pernah saya tinggalkan dalam keadaan hidup.”

 

Haha. Rayuan melodi sang raja dari para raja kenyamanan membuat saya semakin redup bersandar dalam kegelapan si ruang abu. Pertempuran yang sudah terlanjur basah akan darah, tanggung untuk mengulang. Dan kurang merasa nyaman untuk terjun payung ke lading buaya, hidung belang dan mata keranjang.

 

Satu kejujuran yang terucap membuktikan bahwa memang semenjak jaman nabi Adam bau ketiak, bau mulut, berak sembarang, toh Hawa masih saja setia kepadanya. Bukan karena tidak ada pria lain, tapi karena tuhan menciptakan kesetiaan bersamaan dengan terciptanya wanita pertama di muka bumi itu. Banyak yang salah paham dengan pemahaman saya yang terkadang juga tidak saya pahami dengan sungguh. Bahkan hari ini saya lebih dominan daripada aku, yang artinya logika saya sedang masturbasi dengan udara, neurosis dan ajang kegilaan yang disediakan dunia malam ini.

 

Karena saya tidak jenius, kekurangan saya malah melebihi kelebihan saya. Saya hanya seorang cucu tentara bangkrut yang tak disisakan warisan kebun teh walau cuma satu meter saja demi merasakan surga dan kemewahan dunia. Mungkin jika sang purnawirawan itu meninggalkan sedikit saja, terlebih lukisan Sudirman yang di lelang milyaran rupiah itu. Tentu saya tidak akan suka untuk menaiki sepeda butut milik sang purnawirawan karena saya akan menjadi bangsa dynosius dan hedonis papan atas.

 

Saya sangat mensyukuri hari ini. Setidaknya saya tahu bagaimana berjalankaki meskipun sejak langkah pertama saya ketika balita saya sudah tahu resiko apa yang akan saya hadapi pada langkah yang berikutnya. Nafas adalah satu-satunya yang bisa saya berikan pada gadis yang saya cintai, itupun hanya saat kami saling berciuman dalam suatu adegan fatal kepergok Tuhan yang linglung karena kesempatan itu tak pernah datang.

 

Tiba-tiba gelap datang menyambut, “Hey, bangsat! Apa kabar, sudah lama tidak bertemu?” Hahaha…… Bisikan bung karno dan bung hatta terdengar memuakkan, jelas saja kita lama tak bertemu. Kau hanya ada di pohon-pohon beton yang menghijau robotik di kota ini. Sekarang aku yang bertanya, “Apa kabar kakekku disana? Pasti hartamu jauh lebih sedikit daripada dia!”.

 

Saya ketakutan setengah mati untuk hal yang satu itu. Surga saya dirampas, dirampok, dilelang, dibakar, dipentung dan di iris tipis kemudian di giling dan didaur ulang di generasi yang berikutnya. Semoga tidak. Karena saya tidak bisa menjanjikan apa-apa pada generasi saya mendatang. Karena hidup adalah tanggal merah, sedangkan saya adalah makhluk prasejarah berwarna hijau yang belum ada plat kaleng dan kuda besi!!

 

Libido untuk menandingi sesuatu yang tak mungkin bisa saya tandingi semakin memancing adrenalin. Mengorek sampah, de javu, traumatic, dan di akhir cerita semua sama saja. Kita menjadi anak babi dan kamu biangnya hahaha. Andai saja Adam tahu, Hawa setia hanya karena pria pertama dimuka bumi itu menjanjikan surga dunia dan akhirat baginya.