Jalan terlalu pagi lelangit masih abu.

Gemerincing gantungan pintu dan angin bertiup kencang.

Dingin dan lancang!

 

Mengapa kau biarkan pikiranmu berputar pada alur yang sama tanpa kemajuan?

Hanya karena sebentuk pengulangan atau pengosongan makna?

 

Dan kebohongan akan membawa kita pada lorong-lorong cinta tuhan yang senewen.

Membuat babi yang buta terbelalak kaku seketika.

 

Derau. Deru. Debu berpadu di jalur kereta yang kulalui.

 

Senyum nona berwajah tirus seakan memaksa harus melampaui sejarah yang terus menggerus bagaikan kapur halus di papan tulis.

Mencoba menggapai menara logika di pagi buta.

Merangkak dengan batin yang pincang, sementara nalar masih meliar di savana tanpa tuan.

 

Belajar dari keladi dan tupai dengan kenari.

Apa kita benar-benar tahu yang kita inginkan?

Apa yang kita harapkan sedasarnya?

 

Seperti pagi-pagi para perawan yang kehilangan nyali, tahta, harta, dan mahkota membuat mereka buta dan bergelimang cahaya.

Seperti pagi-pagi para perjaka yang mencari api, keberanian, tantangan, dan kehampaan membuat mereka melihat dunia dengan sudut berbeda.

 

Biarkan para peri melepas sayapnya pagi ini.

Kita tahu mereka lelah menebarkan serbuk kebaikan sementara tak ada yang memberikan kebaikan selain kebalikan dari kebaikan itu sendiri.

Memutar aksara bagaikan memutar aura.

 

Semenjana Pagi di hari kedua belas sebelum delapan belas kita kembali suci!

 

~12/08/11 – 05:15~